Baca juga
- Pesantren Darussalam Krandegan Trenggalek
- Pesantren Darul Hanin Magetan
- pesantren Putri Al Azhar
- Pesantren Roudlotul Qur'an Madiun
No 1
Boneka Labubu kini menjadi fenomena populer, khususnya di kalangan kolektor, berkat desainnya yang khas dan strategi pemasaran yang inovatif. Produk dari perusahaan Pop Mart yang didirikan oleh miliarder muda Wang Ning tersebut memiliki kepala besar, mata bulat, ekspresi unik, dan cerita karakter yang kuat.
Salah satu strategi utama yang digunakan adalah “blind box” atau kotak kejutan yang menciptakan elemen ketidakpastian sehingga menarik minat konsumen. Strategi ini memperkuat daya tarik Labubu sehingga mendorong banyak orang untuk mengoleksinya.
Kepopuleran boneka Labubu semakin meningkat setelah Lisa dari Blackpink mengunggahnya di Instagram pada April 2024. Fenomena Labubu juga menarik perhatian besar di Thailand dan negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia. Tren ini didorong oleh fear of missing out (FOMO). Dengan menciptakan eksklusivitas dan memanfaatkan pengaruh media sosial, produsen berhasil memengaruhi konsumen untuk membeli Labubu.
Strategi pemasaran Pop Mart juga memanfaatkan konsep kelangkaan (scarcity marketing), dengan memproduksi Labubu dalam jumlah terbatas. Ini menciptakan rasa urgensi, membuat penggemar rela menunggu lama untuk membelinya. Kelangkaan ini juga meningkatkan nilai jual boneka tersebut di pasar sehingga harga Labubu menjadi naik seiring tingginya permintaan.
Istilah “blind box” pada bacaan memiliki makna …
| (a) | Cara perancangan metode produksi yang memanfaatkan konsep kelangkaan |
| (b) | Cara penjualan dengan kemasan tanpa memberikan kepastian jenis barangnya |
| (c) | Tingkat penyebaran popularitas ke banyak negara tanpa arah yang pasti |
| (d) | Strategi pemasaran yang mengandalkan produksi dengan jumlah tidak tentu |
| (e) | Metode penjualan barang kepada konsumen secara acak |
No 2
Beras merupakan komoditas pangan utama di Indonesia dengan permintaan yang inelastis sehingga menarik bagi pemodal besar. Ketika harga beras naik, pendapatan mereka akan meningkat. Hal ini disebabkan beras merupakan salah satu bahan pokok sehingga jumlah konsumsi beras tidak terlalu berubah walaupun harganya naik. Namun, petani kecil pada umumnya tidak merasakan manfaat dari kenaikan harga beras. Mereka sering terpaksa segera menjual hasil panennya demi modal untuk musim tanam berikutnya. Ketika masa panen terlambat, para petani kehabisan stok beras dan tidak bisa merasakan keuntungan dari kenaikan harga.
Untuk mengatasi lonjakan harga, pemerintah biasanya melakukan impor beras. Namun, impor yang tidak tepat waktu dapat merugikan petani domestik karena pasar dalam negeri dibanjiri beras impor saat panen berlangsung. Impor beras terus-menerus bukanlah solusi jangka panjang bagi ketahanan pangan. Solusi yang lebih berkelanjutan adalah meningkatkan produktivitas di tingkat petani sehingga mereka memiliki kendali yang lebih besar atas produksi mereka.
Petani padi organik, yang sarana produksinya mandiri, memiliki situasi yang berbeda. Mereka memiliki produktivitas yang lebih tinggi daripada petani padi konvensional. Rata-rata produktivitas padi konvensional adalah 5,5 ton per hektare, sementara sawah organik di Tasikmalaya mencapai 8 ton per hektare, bahkan hingga 13 ton per hektare di Wonogiri. Dengan memproduksi pupuk kompos sendiri, petani organik tidak perlu bergantung pada pupuk bersubsidi dan lebih berdaulat atas sarana produksinya. Selain itu, beras organik mereka kini tergolong beras premium di pasar ritel sehingga memberikan nilai tambah yang lebih tinggi.
Istilah "inelastis" pada bacaan memiliki makna …
| (A) | produktivitas petani beras konvensional sulit untuk ditingkatkan |
| (B) | permintaan beras tidak terlalu berubah ketika harganya menjadi lebih mahal |
| (C) | pemodal besar lebih tertarik berinvestasi di sektor beras |
| (D) | petani kecil sulit mendapatkan keuntungan ketika harga beras naik |
| (E) | beras konvensional memiliki nilai tambah yang lebih rendah |
No 3
Untuk memahami penyebab meteor jatuh ke Bumi, perlu pemahaman tentang pengertian meteoroid, meteor, dan meteorit. Meteoroid adalah batuan berukuran kecil yang bergerak mengelilingi Matahari. Meteoroid biasanya merupakan fragmen sisa dari asteroid, komet, atau planet. Sementara itu, meteor adalah meteoroid yang masuk ke dalam atmosfer bumi dan terbakar karena gesekan dengan udara yang ada di atmosfer. Namun, meteor tidak selalu dapat mencapai permukaan Bumi karena biasanya meteor akan terbakar habis sebelum sampai permukaan Bumi. Meteor yang berhasil memasuki orbit dan mencapai permukaan bumi disebut meteorit.
Meteoroid tersebar di tata surya di antara planet, di Sabuk Kuiper, dan di Awan Oort. Jika orbit Bumi bertemu dengan orbit meteoroid, meteoroid bisa memasuki atmosfer Bumi, dan selanjutnya dapat menjadi penyebab meteor jatuh ke Bumi. Meteor yang jatuh dalam jumlah banyak dikenal dengan hujan meteor. Hujan meteor biasanya terjadi jika orbit Bumi bertemu dengan orbit komet. Jika komet menyisakan meteor di belakangnya dalam jumlah banyak, akan terjadi hujan meteor.
Intensitas peristiwa meteor masuk ke atmosfer Bumi sulit dikalkulasi karena jumlahnya sangat banyak dan tidak ada data pasti. Sebagian besar meteor akan habis terbakar di atmosfer sehingga tidak membahayakan manusia. Meteor yang mencapai permukaan bumi umumnya hanya berupa batu berukuran 0,5 kg. Batu meteorit ini jarang menimbulkan korban atau kerusakan yang luas. Namun, karena jatuh dengan kecepatan lebih dari 322 kilometer per jam, meteorit dapat menimbulkan kerusakan pada objek tertentu di bumi. Sebenarnya, bahaya yang lebih nyata dari jatuhnya meteorit justru datang dari gelombang kejut. Contohnya adalah meteor Chelyabinsk yang masuk ke atmosfer Bumi pada Februari 2013 di atas langit Rusia. Meteor ini berukuran sebesar gedung 6 lantai dan pecah sekitar 24 kilometer di atas permukaan tanah. Pecahnya meteor tersebut menyebabkan gelombang kejut yang kekuatannya setara dengan ledakan 500 kiloton bom dan menimbulkan korban 1.600 orang terluka.
(Diadaptasi https://www.kompas.com/)
Menurut bacaan, pengertian meteorit yang paling tepat adalah ....
(a) benda berukuran kecil yang bergerak mengelilingi Matahari seperti planet
(b) fragmen yang tersisa dari asteroid, komet, atau planet di luar angkasa
(c) meteor angkasa yang terbakar dan berhasil masuk ke dalam atmosfer bumi
(d) meteor yang tidak terbakar habis di atmosfer dan jatuh ke permukaan bumi
(e) meteoroid yang terbakar karena gesekan dengan udara di atmosfer
No 4
Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) memberikan tantangan signifikan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Dengan daya beli masyarakat yang masih rapuh, pengusaha UMKM dihadapkan pada dilema: menaikkan harga barang untuk menutupi beban pajak atau mempertahankan harga dan menekan margin keuntungan. Pilihan ini berisiko menekan produksi, lapangan kerja, dan investasi sehingga menciptakan efek domino pada sektor ekonomi lainnya, seperti ritel modern dan manufaktur.
Lebih lanjut, kenaikan PPN dapat melemahkan daya saing produk lokal. Barang lokal yang lebih mahal akan sulit bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Kebijakan ini, meskipun bertujuan meningkatkan penerimaan negara, berpotensi memperburuk kondisi ekonomi domestik jika tidak diimbangi langkah mitigasi yang tepat.
Untuk meminimalkan dampak tersebut, pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang berfokus pada pembelaan terhadap kelompok rentan dan sektor usaha kecil. Langkah pertama adalah memberikan pengecualian PPN untuk barang dan jasa esensial, seperti bahan pangan, kesehatan, dan pendidikan. Langkah ini akan melindungi daya beli masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau. Langkah kedua adalah memberikan insentif fiskal bagi UMKM yang harus diperkuat melalui keringanan pajak atau subsidi operasional. Dukungan ini tidak hanya menjaga keberlanjutan UMKM, tetapi juga memastikan stabilitas lapangan kerja dan kontribusi ekonomi sektor ini. Langkah ketiga adalah melakukan reformasi pajak yang lebih adil. Pemerintah perlu memperluas basis pajak dan mencegah penghindaran pajak untuk mendistribusikan beban secara merata sehingga kenaikan PPN tidak sepenuhnya membebani konsumen dan usaha kecil.
(Diadaptasi dari https://www.kompas.com/)
Istilah "insentif fiskal" pada bacaan memiliki makna …
| (a) | menaikkan anggaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur |
| (b) | menurunkan tarif impor barang-barang esensial |
| (c) | meningkatkan penerimaan pemerintah melalui reformasi perpajakan |
| (d) | meringankan beban pajak atau membantu biaya produksi kelompok usaha tertentu |
| (e) | melindungi daya beli masyarakat melalui sistem pajak progresif |
No 5
Tahun 2023 Indonesia menghadapi dampak fenomena El Nino berupa musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Fenomena El Nino ini berdampak pada kondisi cuaca yang lebih kering, sehingga curah hujan berkurang, tutupan awan berkurang, dan suhu meningkat. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau tahun 2023 akan lebih kering dari kondisi normal, bahkan lebih kering dari tiga tahun sebelumnya. Hasil monitoring BMKG hingga pertengahan bulan Juli 2023 menunjukkan bahwa sebanyak 63% zona musim telah memasuki musim kemarau. Beberapa daerah yang terdampak cukup kuat adalah sebagian besar wilayah Sumatra meliputi Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Bengkulu, Lampung; Seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Daerah-daerah tersebut diprediksi mengalami curah hujan paling rendah dan berpotensi mengalami musim kering yang ekstrem. Prakiraan curah hujan bulanan BMKG menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan bulanan kategori rendah, bahkan sebagian lainnya akan mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali hingga bulan Oktober 2023. Masyarakat Indonesia harus tetap waspada terhadap potensi terjadinya bencana kekeringan.
Bencana kekeringan tentu menimbulkan gangguan pada berbagai sektor kehidupan. Sektor yang paling terdampak dari fenomena El Nino adalah sektor pertanian, utamanya tanaman pangan semusim yang sangat tergantung pada ketersediaan air. Dengan demikian, rendahnya curah hujan akan mengakibatkan lahan pertanian mengalami kekeringan dan pada gilirannya petani mengalami gagal panen. Kemarau panjang harus diantisipasi dengan ketahanan pangan komoditas utama.
Berdasarkan kondisi tersebut BMKG, mendorong pemerintah daerah, khususnya daerah yang diprediksi terdampak serius, untuk melakukan langkah mitigasi dan aksi kesiapsiagaan secara terukur dan tepat sasaran. Mitigasi bertujuan untuk memastikan ketersediaan air. Caranya dengan melakukan gerakan panen hujan, memaksimalkan gerakan hemat air, dan menyiapkan tempat cadangan air untuk menghadapi puncak kemarau. Upaya lain yang terkait dengan penyediaan air, BNPB bekerja sama dengan BMKG dan BRIN melakukan rekayasa menurunkan hujan melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menambah suplai air pada danau, embung, sungai, dan sumur. Aksi kesiapsiagaan dilakukan dengan mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BNPB telah melakukan apel kesiapsiagaan di enam provinsi prioritas rawan karhutla seperti Sumsel, Riau, Jambi, Kalbar, Kalsel, dan Kalteng.
Tujuan rekayasa menurunkan hujan melalui teknologi modifikasi cuaca adalah ....
| A. | mendorong pemerintah daerah untuk melakukan mitigasi bencana |
| B. | menjamin ketercukupan ketersediaan air melalui gerakan panen hujan |
| C. | mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) |
| D. | menyiapkan tempat cadangan air menghadapi puncak kemarau |
| E. | menambah suplai air pada danau, embung, sungai, dan sumur |
- LBI 2025 - no 1
- LBI 2025 - no 2
- LBI 2025 - no 3
- LBI 2025 - no 4
- LBI 2025 - no 5
- LBI 2025 - no 6
- LBI 2025 - no 7
- LBI 2025 - no 8
- LBI 2025 - no 9
- LBI 2025 - no 10
- LBI 2025 - no 11
- LBI 2025 - no 12
- LBI 2025 - no 13
- LBI 2025 - no 14
- LBI 2025 - no 15
- LBI 2025 - no 16
- LBI 2025 - no 17
- LBI 2025 - no 18
- LBI 2025 - no 19
- LBI 2025 - no 20
- LBI 2025 - no 21
- LBI 2025 - no 22
- LBI 2025 - no 23
- LBI 2025 - no 24
- LBI 2025 - no 25
- LBI 2025 - no 26
- LBI 2025 - no 27
- LBI 2025 - no 28
- LBI 2025 - no 29
- LBI 2025 - no 30