Bacaan untuk soal nomor 6–10
Pencanangan Gerakan Hemat Listrik Nasional
Bertempat di Museum Listrik dan Energi Baru, Minggu, 27 April 2008 dilakukan pencanangan Gerakan Hemat Listrik Nasional (GHLN). Pencanangan dilakukan oleh Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan dihadiri para pejabat negara, kalangan pengusaha serta anak-anak sekolah. Acara ini diprakarsai oleh Departemen Energi dan Sumber Daya, PT Perusahaan Listrik Negara, dan PT Energy Management Indonesia. Melalui GHLN masyarakat diharapkan untuk membudayakan hemat listrik.
Perilaku hidup boros dalam menggunakan listrik harus diakhiri agar laju penggunaan listrik dapat diredam. Selain itu, pemborosan dalam bidang kelistrikan merupakan tindakan tidak terpuji.
Budaya hemat listrik perlu dilakukan secara berkelanjutan sebab energi semakin mahal dan terbatas. Untuk itu budaya hemat listrik perlu ditanamkan secara luas di masyarakat termasuk di kalangan generasi muda dan anak-anak. (Dikutip dengan perubahan dari http://www.indonesia.go.id)
Soal 6
Apa tujuan pencanangan Gerakan Hemat Listrik Nasional?
| A | Menyadarkan masyarakat untuk membudayakan perilaku hidup hemat dalam menggunakan listrik. |
| B | Mengajak para pejabat negara agar berupaya meredam laju penggunaan listrik. |
| C | Meminta kalangan pengusaha agar memprakarsai pencanangan Gerakan Hemat Listrik Nasional di masyarakat. |
| D | Menanamkan budaya hemat listrik di kalangan generasi muda dan anak-anak. |
Tampilkan Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis: Teks menyatakan secara langsung bahwa melalui GHLN “masyarakat diharapkan untuk membudayakan hemat listrik”. Itu adalah tujuan utama pencanangan.
- A: Paling tepat karena selaras dengan kalimat tujuan yang eksplisit: membudayakan hemat listrik.
- B: Pejabat negara disebut hadir, tetapi tujuan pencanangan bukan khusus mengajak pejabat, melainkan menyasar masyarakat luas.
- C: Kalangan pengusaha disebut hadir; yang memprakarsai justru lembaga/instansi yang disebut, bukan diminta pengusaha memprakarsai ulang.
- D: Generasi muda dan anak-anak disebut sebagai sasaran penanaman budaya, tetapi itu rincian lanjutan; tujuan utama tetap menyadarkan masyarakat secara umum.
Contoh LaTeX wajib: \( 1 \lt 2 \) dan \( 3 \gt 2 \).
Soal 7
Bagaimanakah cara menciptakan budaya hemat listrik secara berkelanjutan?
| A | Mencanangkan Gerakan Hemat Listrik Nasional di masyarakat. |
| B | Memprakarsai Gerakan Hemat Listrik Nasional bagi anak-anak. |
| C | Menanamkan perilaku hidup hemat listrik secara luas di masyarakat. |
| D | Mengajak generasi muda dan anak-anak untuk berperilaku terpuji. |
Tampilkan Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis: Teks menegaskan budaya hemat listrik harus “berkelanjutan” dan caranya adalah “ditanamkan secara luas di masyarakat”, termasuk generasi muda dan anak-anak.
- A: Pencanangan adalah awal gerakan, tetapi “berkelanjutan” dicapai lewat penanaman budaya secara luas, bukan sekadar acara pencanangan.
- B: Anak-anak memang sasaran, tetapi teks tidak menyebut GHLN diprakarsai khusus “bagi anak-anak”; penanaman dilakukan luas, tidak terbatas.
- C: Paling sesuai karena persis mengikuti gagasan “ditanamkan secara luas di masyarakat”.
- D: “Berperilaku terpuji” memang disebut (boros = tidak terpuji), tetapi cara yang ditekankan teks adalah penanaman budaya hemat listrik, bukan hanya imbauan moral umum.
Contoh LaTeX wajib: \( 5 \gt 4 \) dan \( 2 \lt 9 \).
Soal 8
Di mana Hj. Mufidah Jusuf Kalla mencanangkan Gerakan Hemat Listrik Nasional?
| A | Di PT Perusahaan Listrik Negara. |
| B | Di Museum Listrik dan Energi Baru. |
| C | Di Departemen Energi dan Sumber Daya. |
| D | Di PT Energy Management Indonesia. |
Tampilkan Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Analisis: Lokasi disebut eksplisit pada kalimat awal: “Bertempat di Museum Listrik dan Energi Baru… dilakukan pencanangan …”.
- A: PLN disebut sebagai salah satu pemrakarsa, bukan lokasi acara.
- B: Tepat karena merupakan tempat pencanangan.
- C: Departemen disebut sebagai pemrakarsa, bukan tempat kegiatan.
- D: PT EMI disebut sebagai pemrakarsa, bukan tempat kegiatan.
Contoh LaTeX wajib: \( 10 \gt 7 \) dan \( 3 \lt 8 \).
Soal 9
Mengapa budaya hemat listrik perlu dilakukan secara berkelanjutan?
| A | Sebab pemerintah mencanangkan Gerakan Hemat Listrik Nasional. |
| B | Karena pemborosan listrik banyak dilakukan generasi muda. |
| C | Karena para pejabat sudah memprakarsai budaya hemat listrik. |
| D | Karena energi listrik semakin mahal dan terbatas jumlahnya. |
Tampilkan Jawaban & Analisis
Jawaban: D
Analisis: Alasan “berkelanjutan” dinyatakan jelas: “sebab energi semakin mahal dan terbatas.” Itu sebab utama yang membuat penghematan harus terus-menerus.
- A: Pencanangan adalah peristiwa, bukan alasan mengapa harus berkelanjutan.
- B: Generasi muda disebut sebagai sasaran penanaman budaya, tetapi teks tidak menyatakan pemborosan “banyak dilakukan” generasi muda.
- C: Pejabat disebut hadir, dan pemrakarsa disebut instansi, tetapi ini bukan alasan keberlanjutan.
- D: Tepat karena merupakan sebab eksplisit dalam bacaan.
Contoh LaTeX wajib: \( 12 \gt 11 \) dan \( 4 \lt 9 \).
Soal 10
Apakah simpulan bacaan di atas?
| A | Budaya hemat listrik dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat sejak tanggal 27 April 2008, setelah pemerintah mencanangkan Gerakan Hemat Listrik Nasional. |
| B | Para pejabat negara dan kalangan pengusaha memprakarsai budaya hemat listrik dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak. |
| C | Budaya hemat listrik perlu ditanamkan kepada semua lapisan masyarakat secara luas dan berkelanjutan mengingat energi listrik semakin mahal dan terbatas. |
| D | Para pejabat negara dan kalangan pengusaha menyadarkan masyarakat mengenai bahaya perilaku boros dalam menggunakan listrik. |
Tampilkan Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis: Simpulan harus merangkum gagasan utama bacaan: masyarakat perlu membudayakan hemat listrik, dilakukan luas dan berkelanjutan, karena energi semakin mahal dan terbatas. Pilihan C menggabungkan inti alasan dan ajakan utama bacaan.
- A: Terlalu pasti dan menambah klaim “sejak tanggal 27 April 2008” serta “dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat” seolah sudah terjadi merata, padahal bacaan lebih berupa harapan/anjuran.
- B: Memusatkan simpulan pada pejabat dan pengusaha, padahal bacaan menekankan perubahan perilaku masyarakat luas dan alasan kelangkaan/mahalnya energi.
- C: Paling lengkap: menanamkan luas, berkelanjutan, dan menyebut alasan utama (energi mahal dan terbatas).
- D: Ada unsur “menyadarkan”, tetapi bacaan tidak memusatkan simpulan pada pejabat/pengusaha sebagai pelaku utama penyadaran; fokusnya tetap masyarakat dan budaya hemat.
Contoh LaTeX wajib: \( 6 \gt 1 \) dan \( 1 \lt 6 \).
Pendampingan akademik ini merupakan bagian dari sistem pendidikan di Pesantren Tahfidz Karangmojo, yang berupaya menyeimbangkan pembinaan Al-Qur'an dan kemampuan akademik ananda.
Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 1
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 2
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 3
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 4
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 5
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 6
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 7
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 8
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 9
- Latihan Soal SD Bahasa Indonesia 2011 - Halaman 10