Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 21

(1) “Astaga, Dewo!” seru ibu heran. Mas Dewo masih tertawa. “Apa-apaan kamu ini? Kenapa berdandan seperti ini?” Wulan pun melongo.

(2) “Gimana? Oke kan penyamaran dan aktingku? Tadi ibumu menyuruhku menjemputmu. Kamu kan sudah besar, Wul jadi aku cukup mengawasimu. Kupikir pasti asyik kalau aku menyamar, sekalian latihan akting!” Mas Dewo adalah kakak sepupu Wulan yang kuliah di Institut Kesenian Jurusan Teater.

(3) “Mas Dewo jahat! Lihat, nih!” Wulan menunjuk lututnya yang luka.

(4) “Maaf, sebenarnya aku tidak mau menolongmu, tapi kamu malah lari.”

Kalimat yang menunjukkan suasana kekesalan tokoh pada kutipan cerpen tersebut ditandai dengan nomor …

  1. (1)
  2. (2)
  3. (3)
  4. (4)
Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Analisis opsi:

  • A (1): Kalimat ini berisi keterkejutan dan keheranan ibu (“Astaga…”, “Kenapa berdandan…”). Nuansanya heran/terkejut, bukan kesal.
  • B (2): Kalimat ini berisi penjelasan dan kebanggaan Dewo tentang penyamaran (“Gimana? Oke kan…”), nada bercanda dan memamerkan akting, bukan kesal.
  • C (3): Kalimat ini menunjukkan protes/menyalahkan (“jahat!”) dan memperlihatkan luka. Ada nada marah, tetapi fokus utamanya pada menunjukkan bukti luka dan menuduh.
  • D (4): Kalimat ini memuat keluhan yang menandai kekesalan: “tapi kamu malah lari.” Bagian ini menegaskan rasa jengkel/kecewa terhadap tindakan lawan bicara (Wulan), sehingga suasana “kekesalan” paling jelas muncul di sini.

Soal 22

Gulungan ombak yang datang dari tengah lautan, setelah sampai di tepi pantai bergulung kembali ke tengah lautan. Takjubnya aku tidak dapat dielakkan karena permainan ombak itu merupakan suatu permainan masa. Bukankah begitu perjalanan zaman tersebut?

Amanat kutipan novel tersebut adalah…

  1. Gulungan ombak datang dari tengah lautan silih berganti.
  2. Kehidupan itu akan berubah-ubah sesuai zamannya.
  3. Ombak bergulung-gulung ke tengah lautan tak terelakkan.
  4. Takjubnya aku tidak dapat dielakkan oleh gulungan ombak.
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis opsi:

  • A: Ini hanya mengulang fakta kejadian tentang ombak, bukan pesan/ajaran (amanat).
  • B: Ini mengekstrak gagasan utama “perjalanan zaman” dan “permainan masa” menjadi pesan umum: hidup berubah seiring waktu. Ini paling sesuai sebagai amanat.
  • C: Masih berupa deskripsi gerak ombak (peristiwa), belum menjadi pelajaran moral.
  • D: Ini respon pribadi tokoh (“takjubnya aku…”), bukan amanat untuk pembaca.

Soal 23

Dengan hati-hati, puluhan jangkrik unggul itu dilepas. Aku tidak mengerti. Mengapa makhluk yang diburu di seluruh pelosok desa ini dilepas? Padahal, dia telah mengeluarkan uang, cukup banyak. Tapi begitu melihat matanya berair, aku merasakan kesedihan yang dalam. Setelah melihat orang itu berjalan ke arah perkebunan, entah mau ke mana, aku pulang. Pulang dengan perasaan tidak menentu.

Jenis konflik pada kutipan novel tersebut adalah …

  1. fisik
  2. batin
  3. lahir
  4. jasmani
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis opsi:

  • A (fisik): Konflik fisik menuntut benturan/perkelahian/aksi tubuh yang berhadap-hadapan. Di kutipan ini tidak ada pertikaian fisik.
  • B (batin): Tokoh “aku” mengalami pergolakan perasaan: bingung (“Aku tidak mengerti”), sedih (“kesedihan yang dalam”), dan bimbang (“perasaan tidak menentu”). Ini ciri konflik batin (internal).
  • C (lahir): Konflik lahir (eksternal) biasanya tampak sebagai pertentangan tokoh dengan orang lain/lingkungan secara nyata. Kutipan lebih menonjolkan gejolak perasaan tokoh “aku”.
  • D (jasmani): “Jasmani” merujuk hal tubuh/biologis, bukan jenis konflik utama dalam kajian konflik cerita pada kutipan ini.

Soal 24

“Bagaimana dengan si tukang palu itu, Kobie?”

Rupanya ia masih penasaran dengan ceritaku tadi. Padahal, aku hanya membual tentang si tukang palu itu.

“Ya, dia bisa saja mengancam anak-anak di Centreville ini!”

“Lantas apa yang akan kita lakukan?”

“Entahlah, Gret, saya bingung.”

Bu Gurmon memberikan materi pelajaran. Kami dimintanya berkelompok kecil. Lalu disuruh mengamati beberapa tumbuhan perdu di taman dekat Sekolah. Saya sekelompok dengan Gretchen. Sambil mengamati tumbuhan perdu, kami melanjutkan percakapan.

“Gret, kau lihat itu di atas bukit itu bukan?”

“Ya akuilah!”

“Menurutku, itu tempat persembunyian Si tukang Palu.”

“Ah masa iya.”

“Ia, rumah itu telah lama ditinggalkan penghuninya.” Rupanya Gretchen percaya saja dengan omonganku.

“Bagaimana kalau sebentar sore kita intai rumah itu.” Gretchen memberi usulan.

Simpulan kutipan novel tersebut adalah …

  1. Gretchen dibujuk Kobie tentang si tukang palu.
  2. Tugas dari guru untuk mengamati beberapa tumbuhan perdu.
  3. Cerita tentang si tukang palu berasal dari ayah Gretchen.
  4. Knbie mengunjingi si tukang palu.
Jawaban & Analisis

Jawaban: B

Analisis opsi:

  • A: Ada percakapan yang membuat Gretchen percaya, tetapi inti kutipan memuat perubahan situasi ke konteks sekolah: guru memberi tugas dan mereka tetap melanjutkan obrolan saat mengamati perdu. “Dibujuk” juga terlalu spesifik; teks lebih menunjukkan “membual” dan Gretchen “percaya”.
  • B: Ini merangkum peristiwa inti yang menjadi latar utama pengembangan adegan: Bu Gurmon memberi materi dan menugaskan mereka mengamati tumbuhan perdu; sambil itu percakapan berlanjut. Sebagai simpulan, ini paling mewakili isi kutipan secara menyeluruh.
  • C: Tidak ada informasi bahwa cerita berasal dari ayah Gretchen. Justru narator mengakui “aku hanya membual”.
  • D: Tidak ada peristiwa “mengunjungi” si tukang palu. Yang ada baru rencana mengintai rumah di bukit.

Soal 25

Wawan: Dik, sudah beres masalahmu dengan Dima?

Sidik: Ah, bodo amat, Wan. Dia memang harus dihabisin.

Wawan: Lho, gimana sih? Bicaralah baik-baik dengannya. Dia kan temen kita juga kan?

Sidik: Maunya sih gitu. Tetapi kayaknya dia keras kepala.

Wawan: Ali, enggak, asal kamu memahami karakter dia.

Sidik: Pokoknya, dia harus saya tegasi. Apa pun yang akan terjadi saya sudah siap!

Wawan: Jangan begitu, Dik. Kita harus nyaman dan damai bersama kawan. Bukankah kita ini tahun depan harus ujian nasional, penentu masa depan kita?

Sidik: Seet, Bu Anik datang, ayo masuk ke kelas. Sebentar lagi.

Latar peristiwa percakapan kedua siswa pada kutipan teks tersebut adalah …

  1. sore hari di dalam kelas
  2. di depan kelas pada saat pulang sekolah
  3. siang hari di depan kelas
  4. dalam kelas dan saat pelajaran
Jawaban & Analisis

Jawaban: C

Analisis opsi:

  • A: “Di dalam kelas” tidak sesuai, karena ada ajakan “ayo masuk ke kelas” (berarti mereka belum berada di dalam kelas). Waktu “sore hari” juga tidak didukung teks.
  • B: “Saat pulang sekolah” bertentangan dengan “ayo masuk ke kelas. Sebentar lagi” yang menandakan kegiatan belajar akan dimulai, bukan selesai.
  • C: Paling cocok: mereka berada di luar/sekitar kelas (di depan kelas) lalu diminta masuk karena guru datang. Waktu “siang hari” adalah pilihan waktu yang paling masuk akal dibanding “sore” atau “pulang sekolah” karena konteksnya menjelang pelajaran.
  • D: Jika “saat pelajaran”, seharusnya mereka sudah di dalam kelas; teks justru menunjukkan mereka akan masuk kelas.