Soal 47
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Setelah mengetahui uang kembaliannya lebih, cukup lama Maryati merenung dan berpikir. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak mengembalikan uang kembalian yang lebih itu. Ia tampak gembira sekali. Segera dikayuhnya sepedanya perlahan-lahan sambil bersiul meninggalkan toko itu. Menurutnya, pelayan toko itu sudah lupa akan kekeliruannya.
“Ini kan rezekiku,” katanya dalam hati.
Hari-hari berikutnya Maryati gelisah, tidak tenang karena selalu memikirkan hal itu.
Amanat yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah …
- Janganlah terlalu lama merenung dan berpikir dalam memutuskan sesuatu.
- Jika menerima sesuatu yang bukan milik kita, kembalikan kepada pemiliknya agar perasaan kita tenang.
- Jika menerima uang kembalian lebih ketika berbelanja, anggaplah itu sebagai rezekimu.
- Berhati-hatilah bila berbelanja apalagi menggunakan sepeda di jalan raya.
Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Analisis opsi:
- A: Tidak menjadi pesan utama. Kutipan menonjolkan masalah mengambil hak orang lain dan akibatnya (gelisah), bukan soal “lama merenung”.
- B: Tepat. Tokoh mengambil kembalian lebih (bukan miliknya) lalu “gelisah, tidak tenang”. Pesan yang sesuai: kembalikan yang bukan milik kita agar hati tenang.
- C: Bertentangan dengan kutipan karena kalimat “Ini kan rezekiku” justru menjadi sebab kegelisahan Maryati pada hari-hari berikutnya.
- D: Tidak relevan. Tidak ada masalah “bahaya sepeda” dalam kutipan; konflik utamanya adalah soal kejujuran.
Soal 48
Kutipan novel I
Beberapa bulan setelah ibumu meninggal dunia, sudah mamak suruh dia kawin saja dengan perempuan lain, baik orang Mangkasar atau orang dari lain negeri. Dia hanya menggeleng saja, dia belum hendak kawin sebelum engkau besar, udi. Pernah ia berkata: Sepora hatinya ikut ibumu ke kuburan, dia tinggal di dunia ini dengan hati yang bengis. Tetapi dia takkan begitu, ia cinta kepada ibumu.
Kutipan novel II
“Sekarang,” katanya, “saya sudah ada di sisi ibumu kembali. Ada saya bawa obat kaki ibu. Kata orang Jakarta, mujarab benar obat itu. Obat encok namanya.” Ibu Mariati tertawa, “Kini pun obat sudah memberi berkat, Asri. Kalau aku telah melihat wajahmu, aku sehat sudah. Biar terbang penyakit itu, dan aku sembuh sendiri kelak.” “Moga-moga, tetapi seokok-olok kaki ibu itu diobati juga, supaya sembuh benar-benar.” Biar saya kenakan …” “Tidak, Asri, jangan tergesa-gesa! Obat minum, berwan dan sekaliannya itu sudah kuderikat sehari-harian.” Asri tertawa. “Siapa yang meminumkan obat itu? Makcik Liah agaknya?” tanyanya. “Tidak, dia, patuh. Tetapi Asnah, tak dapat dibantah kehendaknya.”
Perbedaan karakteristik kedua novel tersebut adalah …
| Pilihan | Novel I | Novel II |
|---|---|---|
| A | bahasanya sulit dipahami | bahasanya mudah dipahami |
| B | watak tokoh utamanya yang mencintai istrinya secara berlebihan | watak tokoh utamanya taat pada orang tua |
| C | sudut pandang orang pertama | sudut pandang orang ketiga |
| D | kerinduan | percintaan |
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis opsi:
- A: Ini bersifat penilaian subjektif. Meski Novel I terasa lebih lama/gaya klasik, soal menuntut perbedaan yang bisa ditunjuk jelas dari kutipan.
- B: Novel I memang menyinggung cinta kepada istri, tetapi “berlebihan” tidak dinyatakan. Novel II juga tidak menunjukkan “taat pada orang tua” sebagai ciri utama.
- C: Tepat. Kutipan Novel I memakai kata ganti orang pertama (“ibumu… engkau…”) dengan gaya penceritaan yang terasa dari penutur yang dekat/berposisi “aku” (narasi berpusat pada penutur). Kutipan Novel II lebih berupa narasi pihak luar yang menyebut tokoh (“Ibu Mariati… Asri tertawa…”) sehingga tampak sudut pandang orang ketiga.
- D: Tema “kerinduan” dan “percintaan” tidak dibedakan secara tegas; kedua kutipan sama-sama memuat hubungan kasih sayang.
Soal 49
Perhatikan kutipan novel berikut!
(1) Maka berhentilah Nurbaya sebentar, karena hendak menyapu air matanya, yang keluar tiada disangkanya.
(2) Samsu tiadalah dapat berkata-kata, sebab sedih mendengar nasib adiknya ini. “Oleh sebab itu, kuringat kepadamu, Sam,” kata Nurbaya pula, “Bila engkau kelak beranak perempuan, janganlah sekali-kali kau paksa kawin dengan laki-laki yang tidak disukainya.”
(3) Karena laki-laki yang tidak disukainya, dan telah kuasai sendiri sekarang ini, sekiranya sedar aku, bagaimana sakitnya, susahnya dan tak enaknya, duduk dengan suami yang tiada disukai.
(4) Tak heran aku, bila perempuan, yang bernasib sebagai aku ini melakukan pekerjaan yang tidak baik, karena putus asa, dan melolong ayahku. Tetapi, perempuan yang tiada semalang aku, aku janganlah dipaksa, menurut kehendak hati ibu bapak, … jangan tiada menjauhkan kehendak, kesukaan, umur, kepandaian, tabiat, dan kelakuan anaknya.
Bukti bahwa anak berbakti kepada orang tuanya terdapat pada nomor …
- (1)
- (2)
- (3)
- (4)
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis opsi:
- A (1): Hanya menunjukkan reaksi emosional (menyapu air mata), belum menunjukkan sikap bakti kepada orang tua.
- B (2): Berisi nasihat agar kelak tidak memaksa anak perempuan menikah, bukan bukti bakti kepada orang tua.
- C (3): Paling mengarah pada bukti bakti: tokoh berada dalam keadaan “duduk dengan suami yang tiada disukai”, yang menunjukkan ia menjalani keadaan pahit (menikah dengan yang tidak disukai) — bentuk pengorbanan yang biasanya terjadi karena mengikuti kehendak orang tua.
- D (4): Lebih berupa kritik/larangan agar orang tua tidak memaksakan kehendak, bukan bukti bahwa anak berbakti.
Soal 50
Perhatikan kutipan novel berikut!
Bapak selalu membanding-bandingkan aku dengan Mas Bagus, abngku yang kuliah di jurusan pertambangan. Mas Bagus selalu baik di mata bapak. Bapak sangat membanggakan prestasi belajar Mas Bagus karena selalu menjadi juara kelas ketika masih di SMU. Adapun aku, meskipun pernah masuk peringkat sepuluh besar tapi nilai raporku tidak setinggi nilai rapor Mas Bagus.
Watak tokoh bapak dalam kutipan tersebut adalah …
- suka membanding-bandingkan anaknya
- selalu membela anak yang lebih kecil
- tokoh tidak perhatian pada keluarga
- membandingkan tokoh aku dengan Bagus
Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis opsi:
- A: Tepat. Kalimat pertama menyatakan langsung “Bapak selalu membanding-bandingkan aku dengan Mas Bagus”. Ini menunjukkan watak bapak suka membandingkan anak.
- B: Tidak ada bukti bapak “membela anak yang lebih kecil”.
- C: Tidak ada bukti bapak tidak perhatian pada keluarga; yang tampak justru perhatian pada prestasi, tetapi diekspresikan dengan membandingkan.
- D: Isi opsi ini benar sebagai kejadian spesifik, tetapi watak yang disimpulkan dari kejadian itu lebih tepat dinyatakan secara umum seperti pada opsi A.
Pendampingan akademik ini merupakan bagian dari sistem pendidikan di Pesantren Tahfidz Karangmojo, yang berupaya menyeimbangkan pembinaan Al-Qur'an dan kemampuan akademik ananda.
Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 1
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 2
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 3
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 4
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 5
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 6
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 7
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 8
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Soal 9