Soal 11
Kalimat berikut yang menggunakan kata kerja berobjek adalah …
- Sebelumnya polisi melakukan operasi simpatik.
- Polisi saat ini bermitrakan anak-anak.
- Polisi bekerja demi keamanan dan ketertiban.
- Mereka berpatroli di sepanjang jalan protokol.
Lihat Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis
Kata kerja berobjek (transitif) membutuhkan objek untuk melengkapi makna, misalnya “melakukan apa”. Pada opsi A, kata kerja melakukan jelas memiliki objek, yaitu operasi simpatik.
Penegasan: pola transitif \( melakukan + objek \gt berpatroli + keterangan \) karena “berpatroli” umumnya diikuti keterangan tempat, bukan objek langsung.
- A: benar (melakukan + operasi simpatik sebagai objek).
- B: bentuk “bermitrakan” tidak lazim dan objeknya tidak jelas dalam struktur kalimat.
- C: “bekerja” intransitif, tidak memakai objek langsung.
- D: “berpatroli” intransitif, diikuti keterangan tempat.
Soal 12
Sampai malam tercatat paling tidak 3.426 jiwa atau 928 kepala keluarga telah diungsikan. Mereka ditempatkan di barak pengungsian, relokasi, dan masjid setempat. Sebelumnya, mereka mencari sanak keluarga dan teman-teman keluarga lainnya. Setelah bertemu, mereka berkumpul, seperti kata peribahasa, terpapung sama hanyut, terendam sama karam.
Makna peribahasa yang terdapat dalam paragraf di atas adalah …
- Orang yang ingin hidup atau mati bersama-sama.
- Kaum keluarga atau sahabat yang ingin selalu hidup rukun, seia-sekata.
- Orang yang hidup sebagai nelayan, mungkin hanyut atau tenggelam.
- Orang atau sahabat yang mengungsi karena diserang bahaya.
Lihat Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis
Peribahasa “terpapung sama hanyut, terendam sama karam” bermakna: sehidup semati, senasib sepenanggungan (bersama-sama menanggung akibat, baik maupun buruk). Itu paling dekat dengan opsi A: hidup atau mati bersama-sama.
Penegasan : makna senasib \( sehidup\ semati \gt rukun\ seia\ sekata \) karena peribahasa menekankan “nasib”, bukan sekadar “rukun”.
- A: tepat (sehidup semati/senasib).
- B: lebih ke kerukunan, tidak menonjolkan “senasib”.
- C: terlalu harfiah, bukan makna peribahasa.
- D: konteks pengungsian ada, tetapi peribahasa tidak spesifik “mengungsi”; intinya senasib.
Soal 13
Makna imbuhan ber- pada kata “berhadap-hadapan” sama dengan makna kata berimbuhan dalam kalimat …
- Kertas surat itu beterbangan ke udara.
- Aiisyah dan Annisa berlarian ke sana ke sini.
- Flamboyan berjatuhan dan berserakan.
- Anak kucing itu berdekapan di depan jendela.
Lihat Jawaban & Analisis
Jawaban: D
Analisis
Kata berhadap-hadapan menunjukkan perbuatan yang dilakukan saling/berbalasan (dua pihak saling berhadapan). Makna imbuhan ber- di sini adalah perbuatan yang dilakukan dua orang atau lebih secara saling. Opsi D “berdekapan” juga menunjukkan perbuatan saling (berpelukan).
Penegasan: makna saling \( berhadap-hadapan \gt berdekapan \) karena keduanya melibatkan dua pihak.
- A: “beterbangan” menyatakan keadaan/gerak banyak benda, bukan “saling”.
- B: “berlarian” menyatakan kegiatan berlari (jamak/berulang), bukan saling.
- C: “berjatuhan” menyatakan peristiwa jatuh (banyak/berulang), bukan saling.
- D: “berdekapan” jelas perbuatan saling.
Soal 14
Doni : "Saya mendengar kabar dari Ucu bahwa kamu sudah lulus SMU bahkan kamu berhasil menjadi juara I di SMU-mu."
Boni : (Tersenyum gembira menyambut kalimat pujian Doni) "Betul Don!"
Doni : "……"
Kalimat ucapan selamat yang tepat untuk melengkapi percakapan di atas adalah …
- Selamat Bon, kita telah berhasil.
- Selamat berbahagia, kita turut bergembira.
- Kita semua turut bergembira atas juaramu.
- Saya turut bergembira atas keberhasilanmu.
Lihat Jawaban & Analisis
Jawaban: D
Analisis
Doni memberi ucapan atas keberhasilan Boni (lulus dan juara I). Ucapan yang paling tepat, personal, dan sopan adalah “Saya turut bergembira atas keberhasilanmu.” (opsi D).
Penegasan : kesesuaian subjek \( saya \gt kita \) karena yang berbicara Doni seorang diri, bukan mewakili kelompok.
- A: salah karena “kita” seolah Doni juga ikut menjadi juara.
- B: “berbahagia” terlalu umum, dan “kita” kurang tepat.
- C: masih mungkin, tetapi “kita semua” tidak jelas rujukannya.
- D: paling tepat dan langsung.
Soal 15
"Untuk iseng Pak, mari main catur" tantang Muhdi kepada orang itu. Orang itu menyulut rokoknya baru menyahut, "saya tidak main catur, Nak!" Ah, Masa!" ujar Muhdi sambil memberikan buah caturnya. "ajari jalannya, ya!" sahut orang itu sambil membetulkan duduknya. Lalu dengan gaya seorang juara catur kelas berat, Muhdi memberi pelajaran kepada orang itu. "Untuk langkah pertama, pion boleh maju dua langkah," kata Muhdi.
Dalam penggalan cerpen tersebut Muhdi mempunyai watak …
- bijaksana
- cerdik
- sombong
- meremehkan orang lain
Lihat Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis
Muhdi digambarkan menantang dan bergaya “juara catur kelas berat” saat mengajari lawannya, menunjukkan sikap membanggakan diri/merasa hebat. Itu paling tepat disebut sombong.
Penegasan: indikator sikap \( gaya\ juara\ kelas\ berat \gt sekadar\ mengajar \) karena gaya berlebihan menunjukkan kesombongan.
- A: tidak tampak kebijaksanaan yang menonjol.
- B: “cerdik” berkaitan kecerdasan/kelicikan, tidak jadi fokus.
- C: paling sesuai (bergaya juara, menonjolkan diri).
- D: bisa mengarah, tetapi yang paling jelas dari kutipan adalah kesombongan (lebih dominan daripada meremehkan).
Soal 16
Kantin membaca kitab suci di rumah.
Kalimat pasif dari kalimat aktif tersebut adalah …
- Kitab suci kami dibaca di rumah.
- Kitab suci dibacakan kami di rumah.
- Kitab suci dibacakan di rumah kami.
- Kitab suci kami baca di rumah.
Lihat Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis
Kalimat aktif: Kantin (subjek/pelaku) + membaca (verba aktif) + kitab suci (objek). Bentuk pasifnya: objek menjadi subjek, verba menjadi pasif “dibaca”, pelaku bisa disebut/diimplisitkan. Dari opsi yang ada, yang paling tepat adalah A karena memakai pola pasif “dibaca … di rumah”.
Penegasan: pola pasif \( kitab\ suci\ dibaca \gt Kantin\ membaca \) (objek naik menjadi subjek).
- A: pasif, struktur paling mendekati (meski “kami” pada opsi ini kurang selaras dengan nama “Kantin”, tetapi pola pasifnya benar).
- B: salah struktur (“dibacakan kami” tidak tepat).
- C: “dibacakan” berarti “dibaca untuk orang lain”, padahal kalimat asal “membaca” biasa.
- D: masih aktif (bentuk “kami baca”).
Catatan kecil: Secara bentuk yang paling ideal sesuai subjek “Kantin” adalah “Kitab suci dibaca Kantin di rumah.” Namun pilihan itu tidak tersedia di opsi.
Pendampingan akademik ini merupakan bagian dari sistem pendidikan di Pesantren Tahfidz Karangmojo, yang berupaya menyeimbangkan pembinaan Al-Qur'an dan kemampuan akademik ananda.
Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 1
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 2
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 3
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 4
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 5
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 6
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 7
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 8
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 9
- Latihan Soal SMP Bahasa Indonesia – Paket 10