Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

1. Apa Itu TKA dan Mengapa Hasilnya Jadi Sorotan?

TKA (Tes Kemampuan Akademik) merupakan asesmen baru untuk mengukur kemampuan akademik siswa SMA/SMK mulai 2025. Berbeda dari ujian sebelumnya, TKA menekankan aspek penalaran, numerasi, literasi, dan pemahaman konsep, bukan hafalan atau latihan berulang.

  • penalaran
  • numerasi
  • literasi
  • pemahaman konsep

Karena hasil TKA digunakan untuk seleksi masuk perguruan tinggi (termasuk SNBP), performa siswa pada tes ini menjadi sorotan nasional.


2. Fakta di Lapangan: Nilai Matematika Jatuh Drastis

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyebut nilai Matematika TKA “jeblok-blok-blok-blok”. Data nasional juga menunjukkan penurunan tajam. Pemerintah menilai penyebab utamanya meliputi:

(1) Kualitas pembelajaran matematika belum merata

Hasil TKA mencerminkan lemahnya kemampuan numerasi nasional—masalah yang sifatnya sistemik, bukan sekadar kurangnya usaha siswa.

(2) Soal TKA lebih berorientasi penalaran

Banyak soal membutuhkan logika, pemodelan, dan interpretasi grafik. Namun pembelajaran di sekolah masih fokus pada:

  • rumus cepat
  • latihan berulang
  • metode hafalan

(3) Kurikulum sekolah tidak sinkron dengan bentuk soal

Siswa melaporkan bahwa soal yang muncul berbeda dari pembelajaran sehari-hari, tingkat penalaran tinggi, bahkan ada konsep lama yang tidak lagi diajarkan. Beberapa juara olimpiade pun mengaku kaget menghadapi pola soal TKA.

(4) Kesiapan teknis sekolah masih bermasalah

TKA dilaksanakan secara CBT, sehingga kendala seperti internet lambat, perangkat tidak memadai, siswa membawa gawai pribadi, dan waktu 45 menit untuk 25 soal menambah tekanan psikologis.


3. Kritik dari Praktisi dan Pakar Pendidikan

Guru dan pakar menilai hasil TKA mencerminkan:

  • lemahnya budaya literasi-numerasi
  • pengajaran yang terlalu berorientasi ujian
  • minimnya latihan soal penalaran
  • pelatihan guru yang tidak merata

Dirjen GTK menegaskan perlunya transformasi metode pengajaran matematika agar selaras dengan tuntutan asesmen modern.


4. Dampak Nilai Jeblok terhadap Siswa dan Sistem Pendidikan

(1) Kekhawatiran terhadap jalur masuk PTN

Karena nilai TKA dipakai untuk seleksi prestasi (SNBP), hasil rendah dapat mengurangi peluang siswa masuk PTN, terutama jurusan yang membutuhkan numerasi tinggi.

(2) Ketidakadilan antar sekolah

Siswa dari sekolah dengan fasilitas minim dan kualitas guru tidak merata cenderung tertinggal dibanding sekolah unggulan.

(3) Persepsi negatif terhadap siswa

Nilai jeblok bukan berarti siswa bodoh, melainkan sinyal bahwa sistem pembelajaran perlu diperbaiki.

5. Langkah Pemerintah untuk Mengatasi Masalah

Pemerintah menyiapkan beberapa langkah strategis:

(1) Evaluasi metode pengajaran

  • matematika
  • literasi numerasi
  • pelatihan guru
  • bahan ajar yang relevan

(2) Implementasi pembelajaran berbasis STEM

Tujuannya membiasakan siswa berpikir ilmiah, memecahkan masalah, dan menerapkan konsep dalam kehidupan nyata.

(3) Penegakan integritas ujian

Pemerintah memperketat pengawasan setelah beberapa daerah melaporkan kebocoran soal dan pelanggaran teknis.


6. Apa yang Harus Dilakukan Sekolah dan Orang Tua?

Sekolah dan guru:

  • menggeser fokus dari rumus cepat ke pemahaman konsep
  • melatih soal penalaran sejak kelas X
  • melakukan simulasi TKA berkala

Siswa:

  • membiasakan soal penalaran, grafik, dan aplikasi konsep
  • mengurangi ketergantungan pada hafalan
  • melatih manajemen waktu

Orang tua:

  • mendukung proses belajar tanpa tekanan berlebih
  • mengutamakan pemahaman, bukan sekadar nilai

Kesimpulan: TKA Jeblok adalah Alarm, Bukan Bencana

Nilai TKA 2025 yang rendah tidak menunjukkan kegagalan siswa, tetapi mencerminkan lemahnya sistem pembelajaran nasional. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperbaiki metode mengajar, meningkatkan kompetensi guru, memperkuat numerasi sejak dini, dan membangun pendidikan yang lebih adaptif.