Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 21

Kalimat yang menggunakan majas litotes adalah ….

A. Gubuk sederhana inilah hasil karya selama bertahun-tahun.
B. Teman akrab ada kalanya merupakan sejati.
C. Hujan memandikan tanaman di halaman.
D. Kecantikannya lah justru yang mencelakakannya.
E. Saya telah mencatat kejadian itu dengan tangan saya sendiri.
Jawaban dan Analisis

Jawaban: A

Konsep litotes: majas yang merendahkan diri/mengecilkan kenyataan untuk tujuan kesantunan atau kerendahan hati, misalnya menyebut sesuatu “sederhana” padahal hasilnya besar/berharga.

Mengapa A litotes: Ungkapan “gubuk sederhana” dipakai untuk menyebut hasil karya “selama bertahun-tahun”. Frasa itu bernuansa merendahkan hasil sendiri (mengecilkan) sehingga sesuai ciri litotes.

Evaluasi opsi lain:

B bukan litotes; itu pernyataan umum tentang teman, tidak ada unsur merendahkan diri.

C mempersonifikasikan hujan seolah-olah “memandikan” (majas personifikasi), bukan litotes.

D lebih dekat ke pernyataan sebab-akibat/penekanan, bukan merendahkan diri.

E hanya penegasan (“dengan tangan saya sendiri”), bukan litotes.


Soal 22

Pasangan kalimat yang menggunakan kata berpolisemi dengan tepat terdapat pada ….

A. Peringatan ke-\(57\) HUT RI jatuh pada hari Sabtu.
Karena kelelahan bekerja, setiap di rumah Jatuh di halaman.
B. “Selamat pagi, Pak!” sapa sekretaris itu kepada atasannya.
“Berapa pak dia membeli rokok?” tanya pedagang itu kepada orang suruhannya.
C. Pertandingan sepak bola antara Argentina (Swedia berakhir seri \(1\) - \(1\)).
Cerita yang sedang dibaca Tomy adalah cerita Jaka Tingkir seri kedua.
D. Sepeninggal ayah, ibu sakit-sakitan dan badannya terlihat mengurus.
Istri yang pandai mengurus rumah tangga akan membahagiakan suaminya.
E. Petugas yang telah ditunjuk itu mengukur jalan ke kiri dan ke kanan sepanjang enam meter.
Ibu mengukur kelapa untuk membuat kolak makanan kesenangan ayah.
Jawaban dan Analisis

Jawaban: D

Konsep polisemi: satu kata memiliki beberapa makna yang masih berhubungan (makna dasar → makna turunan), dan pemakaian makna itu tepat sesuai konteks.

Mengapa D paling tepat: Kata “mengurus” dipakai dalam dua makna yang berbeda tetapi masih berhubungan dan sama-sama lazim.

1) “badannya terlihat mengurus” = menjadi kurus/menyusut (kondisi fisik).
2) “mengurus rumah tangga” = mengelola/menangani (mengatur pekerjaan rumah).

Keduanya memakai kata yang sama “mengurus” dengan makna berbeda sesuai konteks, sehingga tepat sebagai contoh polisemi.

Evaluasi opsi lain:

A: “jatuh” pertama bermakna “bertepatan”, sedangkan kalimat kedua “Jatuh di halaman” terasa janggal karena subjeknya tidak jelas; secara struktur kalimatnya tidak efektif.

B: “Pak” pertama sapaan, “pak” kedua juga sapaan tetapi konteksnya salah ketik/struktur (“Berapa pak dia membeli rokok?”) sehingga tidak tepat.

C: Memang “seri” bisa bermakna hasil imbang dan “seri” sebagai bagian/urutan cerita. Ini juga contoh polisemi, tetapi penulisan “Swedia berakhir seri …” tidak rapi, dan format “\(1\) - \(1\)” seharusnya “\(1\)–\(1\)” atau “\(1\)–\(1\)” (intinya: kalimat pertama kurang efektif). D paling bersih dan tepat.

E: “mengukur jalan” benar, tetapi “mengukur kelapa” kurang tepat (yang lazim: “memarut/mengupas/memotong” kelapa; “mengukur kelapa” tidak sesuai konteks memasak), sehingga tidak tepat.


Soal 23

Pasangan kalimat yang menggunakan kata berhomograf adalah ….

A. Pemimpin yang baik harus mempunyai mental yang baik pula.
Pengendara yang mengalami kecelakaan mental dari sepeda motornya.
B. Buku jari tangan adikku terluka saat mengupas mangga.
Buku bacaan untuk anak-anak sebaiknya mempunyai unsur didik.
C. Kopi surat kenaikan pangkat dibuat rangkap dua.
Kopi kiriman ibu dari medan sudah dibagikan kepada tetangga.
D. Kaca jendela rumah itu sudah buram karena jarang dibersihkan.
Andi mengerjakannya di kertas buram.
E. Pada masa sekarang ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisi ekonomi.
Gerakan massa dapat dikendalikan oleh aparat.
Jawaban dan Analisis

Jawaban: D

Konsep homograf: kata yang ejaannya sama, tetapi makna (dan sering kali pelafalan) berbeda sesuai konteks.

Mengapa D tepat: Kata “buram” dipakai dalam dua makna yang berbeda:

1) “kaca jendela … sudah buram” = tidak jernih/keruh (ciri permukaan kaca).
2) “kertas buram” = kertas draf/konsep (kertas untuk coretan awal), bukan makna “tidak jernih”.

Makna berbeda, ejaan sama, dan keduanya lazim. Ini memenuhi ciri homograf.

Evaluasi opsi lain:

A: “mental” pertama (kejiwaan), kedua seharusnya “terpental”, bukan “mental”. Jadi tidak tepat.

B: “buku jari” dan “buku bacaan” memakai “buku” berbeda makna, tetapi ini lebih dikenal sebagai polisemi yang sangat umum; soal ini menekankan homograf yang jelas perbedaan maknanya dan penggunaan bakunya. D paling tegas dan tidak rancu.

C: “kopi surat” (salinan) benar, tetapi “kopi kiriman ibu” janggal karena “kopi” sebagai minuman harusnya diberi konteks minum/menyeduh; kalimatnya tidak efektif.

E: Tidak memuat pasangan kata yang sama ejaannya; jadi bukan homograf.


Soal 24

Kata yang mengalami penyempitan makna terdapat dalam kalimat ….

A. Kapal induk AS berlayar ke Timur Tengah dua bulan yang lalu.
B. Doni tinggal di puri Karang Asem sejak ibunya meninggal.
C. Saudara harus memperhatikan jadwal kegiatan yang disepakati.
D. Ibu guru itu harus bijaksana dalam menghadapi muridnya.
E. Ia bercita-cita menjadi sarjana pendidikan yang kompeten.
Jawaban dan Analisis

Jawaban: E

Konsep penyempitan makna: kata yang dahulu bermakna lebih luas, lalu dalam pemakaian sekarang maknanya menjadi lebih khusus.

Mengapa E tepat: Kata “sarjana” pada awalnya bermakna luas sebagai “orang pandai/cendekia/terpelajar”, tetapi dalam pemakaian modern Indonesia menjadi lebih khusus: gelar pendidikan strata \(1\) (S\(1\)). Itu contoh penyempitan makna (dari “orang terpelajar” → “lulusan S\(1\)”).

Evaluasi opsi lain:

A, C, dan D tidak menampilkan kata yang jelas mengalami penyempitan makna dalam contoh tersebut.

B “puri” bisa bermakna istana/rumah besar; pada beberapa konteks modern bisa jadi nama perumahan, tetapi pada kalimat ini tidak cukup kuat menunjukkan proses penyempitan makna sebagai konsep kebahasaan yang diuji. E paling jelas dan baku.


Soal 25

Frase bermakna ganda terdapat dalam kalimat ….

A. Mobil baru paman dipongkel pencuri tadi malam di tempat parkir.
B. Sakit yang ringan pada tenggorokan sering terjadi karena polusi udara.
C. Sakit pada mulut dan tenggorokan yang ringan sering terjadi pada anak-anak.
D. Obat-obatan modern mampu menghilangkan rasa sakit dalam waktu singkat.
E. Pada tahun ajaran ini SPP siswa baru dinaikkan.
Jawaban dan Analisis

Jawaban: A

Makna ganda (ambigu): sebuah frase/kalimat dapat ditafsirkan lebih dari satu makna karena susunan unsur kalimatnya.

Ambiguitas pada A: “Mobil baru paman dipongkel …” bisa ditafsirkan menjadi dua:

1) “mobil baru” = mobil yang baru (kondisi mobilnya baru), milik paman.
2) “paman baru” = paman yang baru (misalnya paman tiri/baru menjadi paman) memiliki mobil, lalu mobil itu dipongkel.

Karena penempatan kata “baru” bisa melekat ke “mobil” atau ke “paman”, maka kalimat menjadi bermakna ganda.

Evaluasi opsi lain:

B, C, dan D relatif tunggal makna; struktur keterangannya jelas.

E juga jelas: SPP untuk siswa baru dinaikkan, tidak memunculkan dua tafsir yang kuat.