Soal 41
Cermatilah kutipan drama berikut!
(1) Siswandi: (tertawa sendirian)
(2) Sarbini: Jangan tertawa. Saya sungguh-sungguh ini. Kau tahu bahwa aku sudah lama hidup sendirian.
(3) Siswandi: Kau sudah pernah berbicara dengan dia?
(4) Sarbini: Sudah
(5) Siswandi: Jadi, bagaimana kau bisa kira-kira dia mau menerima kau?
(6) Sarbini: Aku takut, jangan-jangan ....
Perbaikan kalimat nomor (4) pada dialog tersebut adalah ...
A. Kemarin lusa
B. Belum pernah
C. Kakakku yang bicara
D. Tadi pagi
E. Pastilah itu
Jawaban dan Analisis
Jawaban: B
Analisis: Kalimat (3) adalah pertanyaan ya/tidak: “Kau sudah pernah berbicara dengan dia?” Jawaban pada kalimat (4) seharusnya berupa respons yang langsung menjawab pertanyaan tersebut secara jelas.
Jika kalimat (4) tetap “Sudah”, maka pertanyaan pada kalimat (5) menjadi kurang kuat, karena Sarbini seharusnya bisa merujuk pengalaman berbicara itu sebagai dasar “kira-kira”. Namun, kalimat (6) menegaskan Sarbini berada dalam kondisi cemas (“Aku takut, jangan-jangan ...”), sehingga lebih logis apabila ia belum pernah berbicara dan hanya bisa menduga.
Karena itu, perbaikan yang paling tepat adalah “Belum pernah”, sebab koherensinya dengan kalimat (5) dan (6) lebih tinggi \( \gt \) pilihan berupa keterangan waktu (“kemarin lusa”, “tadi pagi”) atau jawaban yang tidak menjawab pertanyaan (misalnya “Pastilah itu”).
Pilihan selain B relevansinya \( \lt \) B karena tidak berfungsi sebagai jawaban langsung untuk pertanyaan “sudah pernah” atau “belum pernah”.
Soal 42
Teks untuk soal nomor 42 dan 43. Bacalah kutipan berikut dengan saksama!
(1) Sepeninggal kedua orang tuanya, anak itu sering terlihat duduk termenung di pinggir sungai sambil memandang ke arah riak air. (2) Benar saja seperti yang dikatakan oleh orang tuanya. (3) Pada suatu hari yang panas, hujan turun rintik-rintik dan ada pelangi. (4) Terlihat air di sungai berubah menjadi putih seperti susu. (5) Itulah tanda bahwa kedua orang tuanya telah menang dalam perkelaian mau dengan naga putih. (6) Namun, anak itu tidak dapat hidup sendiri tanpa orang tuanya. (7) Oleh karena itu, ia tetap duduk termenung sampai akhir hayatnya.
(Legenda Lok Si Naga: Cerita Rakyat dari Kalimantan, oleh James Danandjaja)
Nilai moral yang terkandung dalam kutipan karya sastra di atas adalah ...
A. Seorang anak yang merasa bahagia atas kemenangan kedua orang tuanya.
B. Seorang anak yang sering duduk termenung di pinggir sungai sambil memandang ke arah air sungai.
C. Seorang anak yang setia menunggu kedatangan orang tua sampai akhir hayat.
D. Seorang anak yang selalu patuh dan menurut nasihat orang tua.
E. Seorang anak yang senang melihat air sungai berwarna putih seperti susu.
Jawaban dan Analisis
Jawaban: C
Analisis: Nilai moral adalah pesan sikap/keteladanan yang dapat dipetik. Kutipan menonjolkan kesetiaan dan keterikatan anak kepada orang tuanya: setelah orang tua tiada, anak tetap menunggu/termenung hingga akhir hayat (kalimat (1), (6), dan (7)).
Pilihan C merangkum pesan itu secara paling tepat: “setia menunggu ... sampai akhir hayat.” Pilihan lain lebih berupa detail peristiwa (misalnya duduk di pinggir sungai) atau penilaian yang tidak menjadi pesan utama (misalnya “senang melihat air putih”).
Soal 43
Bukti latar tempat yang digambarkan pada kalimat nomor ...
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (4)
C. (2) dan (5)
D. (3) dan (6)
E. (4) dan (7)
Jawaban dan Analisis
Jawaban: B
Analisis: Latar tempat ditunjukkan oleh keterangan lokasi yang jelas.
Kalimat (1) menyebut “di pinggir sungai”, dan kalimat (4) menyebut “di sungai”. Keduanya sama-sama menunjukkan tempat kejadian (sungai/pinggir sungai).
Kalimat (1) dan (4) memuat penanda tempat yang lebih eksplisit \( \gt \) kalimat lain yang hanya berisi penegasan, akibat, atau suasana. Pilihan yang paling tepat adalah (1) dan (4).
Opsi lain relevansinya \( \lt \) karena tidak sama kuat menunjukkan “di mana” peristiwa terjadi.
Soal 44
Penggalan cerpen berikut untuk soal nomor 44 dan 45. Bacalah penggalan cerpen berikut dengan saksama!
“Bangsat, siapa kau,” Haji Basuni membentak dan ketika menjami mukaku dengan geramnya ia hendak mencengkeram aku.
Setelah takut aku undur dan menjawab.
“Aku teman Umi dan Latifah.” Dan tiba-tiba benciku timbul terhadap haji itu.
“Tapi, aku larang aku dekati mereka, mengerti anak lapar?”
Betapa tersinggungnya aku mendengar kata-kata terakhir haji itu. Tapi, aku tak berani dan tak bisa berbuat apa-apa selain kecut dan mendongkol.
Sesudah haji itu meninggalkan aku dan baru saja aku melangkah, dari rumah Umi terdengar suara gaduh diiringi tangis perempuan, dan itu suara Umi. Ia melolong-lolong dalam sela bentak dan rotan, mungkin bersama kakaknya.
Watak tokoh Haji Basuni dalam cerpen tersebut adalah ...
A. Keji, tetapi sangat sayang kepada anaknya.
B. Berwibawa dan tegas dalam bersikap.
C. Kejam dan kasar dalam berucap.
D. Bijaksana, tetapi keras dalam bertindak.
E. Kejam dan sangat disiplin.
Jawaban dan Analisis
Jawaban: C
Analisis: Watak Haji Basuni tergambar lewat tindak tutur dan cara ia memperlakukan orang lain. Ia membentak dengan kata kasar (“Bangsat, siapa kau”), bernada mengancam (“hendak mencengkeram aku”), dan melarang dengan gaya ujaran merendahkan (“mengerti anak lapar?”). Semua itu menunjukkan kekasaran dalam ucapan dan kekerasan sikap.
Pilihan C paling sesuai karena menekankan “kasar dalam berucap”, yang paling nyata dibuktikan oleh dialog langsung tokoh. Pilihan lain memuat unsur yang tidak didukung kuat (misalnya “bijaksana”, “sangat sayang”, atau “disiplin”).
Soal 45
Pendeksripsian watak dalam penggalan cerpen tersebut adalah ...
A. tanggapan tokoh lain dan dialog antartokoh
B. tanggapan tokoh lain dan lingkungan tokoh
C. dialog antartokoh dan pikiran-pikiran tokoh
D. deskripsi ciri fisik dan tanggapan tokoh lain
E. deskripsi gerak-gerik dan lingkungan tokoh
Jawaban dan Analisis
Jawaban: A
Analisis: Watak Haji Basuni ditampilkan melalui:
(1) Dialog antartokoh, yaitu ucapan langsung Haji Basuni (“Bangsat, siapa kau ...”, “Tapi, aku larang ...”).
(2) Tanggapan tokoh lain, yakni reaksi “aku” sebagai pencerita: “Betapa tersinggungnya aku ...”, “kecut dan mendongkol”, serta “benciku timbul”.
Jadi, cara pendeskripsiannya adalah tanggapan tokoh lain + dialog antartokoh (A). Pilihan lain tidak tepat karena tidak ada deskripsi fisik tokoh, dan lingkungan bukan alat utama untuk menilai watak pada kutipan ini.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 10
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 11