Kutipan untuk soal nomor 46 s.d. 48
Menurut ibu yang didengarnya dari ayah, sebab terjadinya penyerangan terhadap Opzichter Belanda itu karena Opzichter itu selalu mengganggu istri-istri mereka, dan rupanya kuli-kuli kontrak itu sudah gelap matanya, tidak dapat lagi menahan hati melihat Opzichter itu mengganggu istri-istri mereka. Lalu mereka memutuskan beramai-ramai menyerang Opzichter.
46. Konflik dalam kutipan tersebut adalah …
| A | Rasa benci kuli-kuli kontrak terhadap Opzichter. |
| B | Opzichter merasa marah karena istri kuli kontrak tidak patuh kepadanya. |
| C | Rasa marah (gelap mata) kuli-kuli kontrak terhadap Opzichter. |
| D | Rasa tertekan perasaan istri-istri kuli kontrak terhadap suami mereka. |
| E | Opzichter merasa dihina istri kuli-kuli kontrak menolaknya. |
Lihat Jawaban & Analisis Nomor 46
Jawaban: C
Analisis opsi A: Kutipan tidak menekankan “benci” sebagai konflik utama, melainkan reaksi memuncak yang ditandai frasa “sudah gelap matanya” dan “tidak dapat lagi menahan hati”. Ini menunjukkan amarah yang meledak, bukan sekadar kebencian umum.
Analisis opsi B: Tidak ada informasi bahwa Opzichter marah karena “istri kuli kontrak tidak patuh”. Fokus kutipan justru pada tindakan Opzichter yang “selalu mengganggu” dan reaksi kuli kontrak.
Analisis opsi C: Konflik yang tampak jelas adalah kemarahan kuli kontrak terhadap Opzichter: “kuli-kuli kontrak itu sudah gelap matanya” dan “tidak dapat lagi menahan hati” saat melihat gangguan pada istri-istri mereka. Itu adalah inti pertentangan yang mendorong tindakan berikutnya.
Analisis opsi D: Kutipan tidak menyebut istri-istri tertekan terhadap suami. Yang disebut adalah istri-istri diganggu, lalu para suami (kuli kontrak) tersulut marah.
Analisis opsi E: Tidak ada peristiwa “istri menolak Opzichter” sehingga ia merasa dihina. Kutipan hanya menyatakan Opzichter mengganggu dan kuli kontrak bereaksi.
Catatan hubungan peristiwa: Gangguan Opzichter (sebab) \( \gt \) amarah kuli kontrak (konflik) \( \gt \) keputusan menyerang (akibat).
47. Penyebab konflik pada diri kuli kontrak adalah …
| A | Kuli-kuli kontrak memaki-maki Opzichter yang mengganggu istri mereka. |
| B | Istri kuli-kuli kontrak mengadukan Opzichter kepada suami mereka. |
| C | Opzichter tidak dapat lagi menahan marahnya terhadap istri kuli kontrak. |
| D | Istri kuli kontrak merasa dihina oleh perlakuan Opzichter. |
| E | Opzichter selalu mengganggu istri-istri kuli kontrak. |
Lihat Jawaban & Analisis Nomor 47
Jawaban: E
Analisis opsi A: Kutipan tidak menyebut tindakan “memaki-maki”. Yang ada adalah reaksi batin yang memuncak dan keputusan menyerang.
Analisis opsi B: Tidak ada kalimat yang menyatakan para istri “mengadukan” perbuatan Opzichter. Kutipan hanya menjelaskan sumber informasi (“menurut ibu…”) dan sebab amarah kuli kontrak.
Analisis opsi C: Kutipan tidak menampilkan emosi Opzichter yang marah. Justru kuli kontraklah yang “gelap mata”.
Analisis opsi D: Tidak ada pernyataan eksplisit bahwa istri merasa dihina. Yang ditegaskan ialah kuli kontrak tidak tahan melihat gangguan itu.
Analisis opsi E: Ini persis disebutkan: “karena Opzichter itu selalu mengganggu istri-istri mereka”. Kalimat tersebut adalah penyebab langsung yang memantik konflik.
Penguat logika: Penyebab harus berupa pemicu awal; “selalu mengganggu” adalah pemicu yang jelas, sedangkan opsi lain tidak didukung kutipan.
48. Peristiwa akibat konflik itu adalah …
| A | Opzichter menyerang kuli-kuli kontrak yang melawan. |
| B | Kuli kontrak memutuskan untuk menyerang Opzichter. |
| C | Opzichter mengutuk kuli-kuli kontrak mengekang istrinya. |
| D | Istri kuli kontrak mengadukan perbuatan Opzichter kepada mereka. |
| E | Kuli kontrak melindungi istri-istri mereka dari bahaya. |
Lihat Jawaban & Analisis Nomor 48
Jawaban: B
Analisis opsi A: Kutipan tidak menyebut balasan serangan dari Opzichter. Yang diceritakan hanya keputusan kuli kontrak untuk menyerang.
Analisis opsi B: Kutipan menutup dengan peristiwa ini: “Lalu mereka memutuskan beramai-ramai menyerang Opzichter.” Itu adalah akibat yang dinyatakan langsung setelah konflik memuncak.
Analisis opsi C: Tidak ada bagian yang menyebut Opzichter mengutuk atau menilai kuli kontrak mengekang istrinya.
Analisis opsi D: Tidak ada informasi tentang pengaduan istri kepada para suami.
Analisis opsi E: “Melindungi” tidak dinyatakan sebagai peristiwa akhir. Yang ditegaskan justru tindakan agresif berupa keputusan menyerang.
Penegasan urutan: Konflik (amarah memuncak) \( \gt \) keputusan tindakan (menyerang). Ini lebih tepat daripada peristiwa yang tidak tertulis.
Kutipan puisi untuk soal nomor 49 dan 50
MENYESAL
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
A. Hasymi
49. Kata petang dalam larik ketiga puisi tersebut mempunyai makna lambang …
| A | waktu sore hari |
| B | kehidupan manusia |
| C | suasana senja |
| D | masa tua |
| E | perasaan manusia |
Lihat Jawaban & Analisis Nomor 49
Jawaban: D
Analisis opsi A: Jika “petang” hanya dimaknai sore, maka larik berikutnya “Batang usiaku sudah tinggi” menjadi kurang selaras. Puisi ini memakai waktu sebagai lambang usia.
Analisis opsi B: “Kehidupan manusia” terlalu umum. Puisi lebih spesifik: pagi = indikasi awal/masa muda, petang = fase lanjut/masa tua.
Analisis opsi C: “Suasana senja” masih berfokus pada keadaan alam, padahal konteks larik berikutnya menegaskan perubahan pada usia (“batang usiaku”).
Analisis opsi D: “Sekarang petang datang membayang” diikuti “Batang usiaku sudah tinggi” menandakan penutur telah masuk fase akhir kehidupan. Jadi petang adalah lambang masa tua.
Analisis opsi E: “Perasaan manusia” tidak menjadi lambang utama kata “petang” di sini. Perasaan baru muncul kuat pada bait kedua (“meracun hati”), bukan pada kata “petang”.
Pengikat makna: Pagi (awal) \( \lt \) petang (akhir), sehingga “petang” tepat dipahami sebagai masa tua.
50. Maksud bait kedua puisi tersebut adalah …
| A | seseorang yang lengah di pagi hari sehingga hidupnya sangat menderita di usia muda. |
| B | seseorang yang menderita hidupnya karena tidak mempunyai ilmu dan harta. |
| C | seseorang yang miskin harta dan miskin ilmu pada masa muda karena ia lupa waktu. |
| D | seseorang yang telah menyia-nyiakan masa mudanya dalam menuntut ilmu sehingga hidup menderita di hari tua. |
| E | seseorang yang melalaikan waktu di masa muda karena dia memiliki ilmu dan harta. |
Lihat Jawaban & Analisis Nomor 50
Jawaban: D
Analisis dasar bait kedua: Bait kedua berisi pengakuan penutur: “Aku lalai di hari pagi”, “Beta lengah di masa muda”, lalu dampaknya “Kini hidup meracun hati” dan hasilnya “Miskin ilmu, miskin harta”. Artinya, kelalaian masa muda berbuah penyesalan dan kemiskinan ilmu/harta di masa tua.
Analisis opsi A: Opsi A menyebut “menderita di usia muda”, padahal bait kedua menunjukkan penderitaannya muncul “kini” sebagai akibat kelalaian dahulu. Jadi waktu akibatnya tidak tepat.
Analisis opsi B: Opsi B hanya menyatakan menderita karena tidak punya ilmu/harta, tetapi tidak menekankan penyebab utama yang ditegaskan bait kedua, yaitu kelalaian pada masa muda.
Analisis opsi C: Opsi C menyatakan “miskin ilmu dan harta pada masa muda”, padahal bait kedua menunjukkan kemiskinan itu disadari “kini” setelah ia melewati masa muda (selaras dengan konteks petang/usia tinggi pada bait pertama).
Analisis opsi D: Opsi D memuat runtut makna: masa muda disia-siakan (lengah/lalai) \( \gt \) penyesalan saat tua (“meracun hati”) \( \gt \) miskin ilmu dan harta. Ini paling sesuai dengan isi bait kedua dan kaitannya dengan bait pertama.
Analisis opsi E: Opsi E berlawanan dengan teks. Bait kedua justru menegaskan ia miskin ilmu dan harta, bukan memilikinya.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 10
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA 11