Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Aneka Ragam Kuliner Khas Papua Barat yang Wajib Dicoba

Papua Barat dikenal bukan hanya karena alamnya yang memukau, tetapi juga karena kekayaan kulinernya yang unik. Banyak makanan khas daerah ini berbahan sagu, hasil laut, serta umbi-umbian lokal yang diolah dengan cara sederhana namun menghasilkan rasa yang kuat. Berikut beberapa kuliner khas Papua Barat yang menarik untuk dicoba, lengkap dengan cerita singkat dan ciri khas rasanya.

  1. Udang Selingkuh

    Nama “udang selingkuh” sering membuat orang penasaran. Kuliner ini sebenarnya berasal dari udang air tawar dengan nama latin Cherax albertisii yang banyak ditemukan di perairan tawar, salah satunya di sekitar kawasan Sungai Baliem, Wamena.

    Julukan “selingkuh” muncul karena bentuk tubuhnya dianggap “campuran”: badan mirip lobster dengan ukuran lebih besar daripada udang biasa, tetapi memiliki capit yang menyerupai kepiting. Meski begitu, hewan ini tetap udang air tawar murni.

    Udang selingkuh dapat diolah dengan cara direbus atau digoreng. Teksturnya padat berserat, namun lembut saat digigit, dengan rasa sedikit manis alami. Biasanya disajikan dengan bumbu saus tiram, saus mentega, atau saus padang, lalu makin nikmat jika ditemani tumis kangkung atau bunga pepaya.

  2. Papeda

    Papeda adalah makanan berbahan sagu yang bertekstur kental, menyerupai bubur, dan sering disantap bersama lauk berkuah seperti ikan kuah kuning. Rasanya cenderung netral seperti nasi, sehingga kenikmatannya sangat bergantung pada lauk dan kuah pendamping.

    Biasanya kuahnya kaya rempah seperti kunyit, jahe, serai, dan bumbu aromatik lain yang membuat papeda terasa hangat dan gurih. Lebih dari sekadar makanan, papeda juga dianggap bagian dari warisan budaya dan kearifan lokal.

    Bagi sebagian masyarakat Papua, sagu bukan hanya bahan pangan, tetapi sesuatu yang dimuliakan dalam tradisi dan mitologi. Karena itu, papeda kerap hadir dalam momen adat tertentu, misalnya pada upacara kelahiran anak pertama di Suku Inanwatan, papeda disajikan bersama daging babi.

  3. Kue Lontar

    Kue lontar adalah kudapan manis yang populer dan sering disajikan untuk tamu, terutama saat momen besar seperti Natal dan Lebaran. Bentuknya mirip pie, dengan kulit luar yang renyah dan isian lembut karena menggunakan susu.

    Rasanya sering dianggap mirip pie susu, sehingga mudah diterima oleh banyak lidah. Menariknya, kue lontar menggunakan tepung terigu sebagai bahan utama, berbeda dari banyak kuliner Papua yang identik dengan sagu. Karena itu, kue ini juga sering dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke Papua Barat.

  4. Sate Ulat Sagu

    Sate ulat sagu mungkin terdengar ekstrem bagi sebagian orang, tetapi di Papua ulat sagu justru dikenal sebagai sumber pangan penting. Ulat sagu disebut memiliki kandungan protein tinggi dan kerap dikonsumsi sebagai sumber tenaga.

    Selain faktor gizi, ulat sagu juga punya peran budaya. Dalam tradisi tertentu, ulat sagu dianggap menu istimewa saat acara adat. Misalnya dalam budaya Suku Asmat, proses menebang pohon sagu sering menjadi bagian awal kegiatan adat, lalu ulat sagu yang muncul dapat dimakan mentah atau dibakar sebagai hidangan terhormat.

  5. Kue Sagu Bagea

    Bagea adalah kue kering berbahan tepung sagu dengan aroma khas kelapa sangrai. Teksturnya cenderung renyah dan agak keras, sehingga perlu “usaha” saat mengunyah, tetapi justru itu yang menjadi ciri khasnya.

    Bagea paling pas dinikmati bersama kopi atau teh. Kue ini cukup mudah ditemukan, termasuk di toko online, namun banyak orang percaya bagea dari Papua memiliki rasa dan aroma yang lebih kuat. Jika berkunjung ke Papua Barat, terutama Sorong, camilan ini layak masuk daftar oleh-oleh.

  6. Sagu Batangan

    Sagu batangan adalah olahan sagu berbentuk persegi panjang yang dijemur hingga mengeras. Camilan ini bisa dimakan langsung, atau dicelupkan ke teh maupun kopi agar teksturnya menjadi lebih lembut.

    Keunikan sagu batangan ada pada sensasi teksturnya: keras saat kering, lalu berubah lembut ketika terkena minuman hangat. Rasanya gurih sederhana, cocok untuk teman minum saat santai.

  7. Martabak Sagu

    Martabak sagu adalah inovasi martabak yang mengganti tepung terigu dengan tepung sagu. Hasilnya tetap menyerupai martabak pada umumnya, tetapi memiliki rasa gurih yang khas dari sagu.

    Kuliner ini dikenal sebagai salah satu primadona di daerah Fakfak. Toppingnya pun beragam seperti cokelat, keju, dan pisang, sehingga cocok untuk pencinta camilan manis yang tetap ingin merasakan sentuhan lokal Papua.

  8. Roti Abon Gulung

    Roti abon gulung mungkin terdengar familiar karena banyak dijual di berbagai kota. Namun, kudapan ini dikenal sebagai salah satu roti favorit masyarakat Sorong, Papua Barat.

    Bentuknya berupa roti gulung atau roll, dengan taburan abon di sisi kanan dan kiri. Perpaduan lembut roti dan gurih-manis abon membuatnya mudah disukai. Di Sorong, ada toko roti yang cukup terkenal dengan produk ini, salah satunya Billy Bakery di kawasan Jalan Ahmad Yani, Klakublik, Distrik Sorong.

  9. Keripik Keladi

    Keripik keladi adalah oleh-oleh khas Sorong yang populer karena rasanya gurih dan renyah. Umbi keladi diiris tipis lalu digoreng hingga kering, kemudian diberi bumbu seperti garam, bawang putih, cabai, dan jahe agar rasanya lebih kaya.

    Keripik ini umumnya tersedia dalam varian asin maupun manis. Harganya terjangkau dan mudah ditemukan, sehingga sering jadi pilihan praktis untuk dibawa pulang.

  10. Keripik Sukun

    Sukun yang biasanya diolah dengan cara digoreng atau dikukus, di Sorong juga populer dijadikan keripik. Keripik sukun terkenal gurih, renyah, dan cocok untuk camilan maupun oleh-oleh.

    Karena rasanya ringan dan mudah dinikmati, keripik sukun menjadi salah satu camilan yang sering dicari wisatawan ketika berkunjung ke Papua Barat.

Penutup

Kuliner khas Papua Barat menunjukkan kekayaan bahan pangan lokal seperti sagu, hasil laut, dan umbi-umbian yang diolah menjadi aneka makanan unik. Dari papeda yang sarat budaya hingga camilan seperti bagea dan keripik keladi, semuanya memberi pengalaman rasa yang berbeda. Jika Anda berkesempatan berkunjung, jangan lewatkan untuk mencicipi langsung agar lebih memahami kekayaan kuliner dan tradisi masyarakat Papua Barat.