Soal 34
Cermati silogisme berikut dengan saksama!
PU : Semua pejabat negara harus jujur dan hidup sederhana.
PK : Mogundha pejabat negara.
S : ....
Simpulan yang tepat untuk melengkapi silogisme tersebut adalah....
| A. | Mogundha pejabat negara yang jujur dan sederhana. |
| B. | Mogundha harus jujur dan hidup sederhana. |
| C. | Mogundha harus jujur dan sederhana karena seorang pejabat negara. |
| D. | Mogundha seharusnya jujur dan sederhana. |
| E. | Sebagai Menteri Mogundha selayaknya jujur dan sederhana. |
Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Analisis:
Premis umum (PU) menyatakan bahwa semua pejabat negara memiliki kewajiban untuk bersikap jujur dan hidup sederhana.
Premis khusus (PK) menyatakan bahwa Mogundha termasuk dalam kelompok pejabat negara.
Berdasarkan pola silogisme, jika seseorang termasuk pejabat negara, maka ia wajib mengikuti ketentuan pada premis umum. Oleh karena itu, simpulan yang sah adalah bahwa Mogundha harus jujur dan hidup sederhana.
Alasan pilihan lain tidak tepat:
A menyatakan sifat seolah-olah sudah melekat, bukan kewajiban yang diturunkan dari premis umum.
C menambahkan alasan eksplisit (“karena seorang pejabat negara”) yang tidak diperlukan dalam simpulan silogisme formal.
D menggunakan kata “seharusnya” yang lebih lemah maknanya dibandingkan “harus” pada premis umum.
E memasukkan informasi baru (“Menteri”) yang tidak terdapat dalam premis khusus.
Soal 35
Cermatilah kalimat berikut!
|
Setiap alit profesional, pada saat bertanding pasti menggunakan metoda bermain secara konsekwen berbeda dengan yang amteran. |
Perbaikan kata bercetak miring dalam kalimat tersebut yang tepat adalah ....
A. atlet, profesional, metoda, konsekwen, amatiran
B. atlet, profesional, metode, konsekuen, amatiran
C. atlet, profesi, methodik, konsekuen, amatir
D. atlit, profesional, metodologi, konsekwen, amatir
E. atlit, profesional, metodologia, konsekwen, amatir
Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Kata yang perlu diperbaiki: alit, metoda, konsekwen, amteran. Perbaikan bakunya adalah atlet, metode, konsekuen, amatiran.
Opsi B memuat semua bentuk baku tersebut, sehingga B \( \gt \) opsi lain.
Opsi lain \( \lt \) B karena masih memuat bentuk tidak baku seperti metoda, konsekwen, atau atlit.
Soal 36
|
Kita tidak ... beratnya sanksi bagi pelanggar ... lalu lintas karena hal itu ... bukan merupakan sumber masalah. |
Kata yang tepat untuk melengkapi kalimat rumpang tersebut adalah ....
A. dipersoalkan, pengaturan, pembenarannya
B. mempersoal, pengaturan, kebenarannya
C. mempersoali, peraturan, dibenarkannya
D. mempersoalkan, peraturan, sebenarnya
E. dipersoalkan, peraturan, sebenar-benarnya
Jawaban & Analisis
Jawaban: D
Kalimat efektif yang paling logis adalah: “Kita tidak mempersoalkan beratnya sanksi bagi pelanggar peraturan lalu lintas karena hal itu sebenarnya bukan merupakan sumber masalah.”
D tepat karena bentuk katanya baku dan maknanya runtut (tidak mempermasalahkan sanksi, sebab itu bukan sumber masalah). D \( \gt \) opsi lain.
Opsi lain \( \lt \) D karena ada bentuk kata yang janggal/kurang lazim dalam struktur kalimat (misalnya “mempersoal”, “mempersoali”, atau “sebenar-benarnya”).
Soal 37
Bacalah teks berikut dengan saksama!
|
“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” Begitulah mereka dapat menunjukkan rasa dengki dengan emosi yang terkendali, kesabaran yang menyejukkan, dan menenteramkan. Maka tatkala menerima kata-kata kotor, ... bahkan memandang kata-kata itu sebagai angin lalu yang tidak pernah kembali. |
Ungkapan yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang tersebut adalah ....
A. buka tembok tak ada
B. tangan menengadah ke atas
C. mata tak berkedip
D. hati kecut
E. telinga tak memerah
Jawaban & Analisis
Jawaban: E
Konteks kalimat menekankan kesabaran dan emosi terkendali, lalu dilanjutkan dengan “memandang kata-kata itu sebagai angin lalu”. Artinya, hinaan tidak membuat mereka tersulut.
Ungkapan “telinga tak memerah” menggambarkan tidak tersinggung/ tidak terpancing emosi ketika mendengar kata-kata kotor. Maka E \( \gt \) opsi lain.
Opsi lain \( \lt \) E karena tidak sejalan dengan makna “menganggap angin lalu” (misalnya “hati kecut” justru menunjukkan rasa tidak nyaman).
Soal 38
Bacalah dialog berikut dengan saksama!
|
Rudi : “Tugas kita sebagai pelajar, ya, belajar dan belajar.” Irma : “Itu benar! Tapi untuk mencapai kemajuan di bidang IPTEK dan ekonomi sekarang ini susah, kalau hanya dengan belajar saja.” Rudi : “Lain apalagi yang harus kita perbuat?” Irma : “Ya, aku sendiri tidak tahu! Masalahnya kita belum mampu keluar dari lingkaran kemiskinan.” Rudi : “Ya ya! Bagai membandarkan air ke gunung. Untuk mencapai kemajuan seperti di beberapa negara tetangga.” Dedi : “Malah mungkin ... bagi kita saat ini.” |
Peribahasa yang tepat untuk melengkapi dialog tersebut adalah ....
A. bagai bergarang di akar lapuk
B. seperti mentimun dengan durian
C. bagai air di daun talas
D. bagai bumi dengan langit
E. bagai menggenggam benang basah
Jawaban & Analisis
Jawaban: E
Rudi sudah menyatakan peribahasa “bagai membandarkan air ke gunung” yang bermakna hampir mustahil. Kalimat Dedi “Malah mungkin ... bagi kita saat ini.” menegaskan tingkat kesulitan yang sama atau bahkan lebih berat.
Peribahasa “bagai menggenggam benang basah” bermakna pekerjaan yang sulit dilakukan/ sulit berhasil karena objeknya mudah lepas dan tidak bisa dipegang kuat. Ini cocok sebagai penegas bahwa hal itu terasa sangat sulit bagi mereka saat ini. E \( \gt \) opsi lain.
Opsi B \( \lt \) E karena menggambarkan pihak lemah vs kuat, sedangkan konteks dialog menekankan “sulit/nyaris mustahil” untuk diwujudkan, bukan pertarungan dua pihak.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10