soal 46
Cermati kalimat berikut!
A.A. Navis, seorang seniman yang perspektif: pemikirannya jauh ke depan, sebagai sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten, serta jujur pada dirinya sendiri.
Kesalahan pada kalimat tersebut adalah menggunakan tanda baca ....
A. titik (.) setelah singkatan A.A.
B. titik dua (:) setelah kata perspektif
C. koma (,) setelah kata Navis
D. koma (,) sebelum kata serta
E. koma (,) setelah kata kreatif
Jawaban dan Analisa
Jawaban: B
Analisa: Tanda titik dua (:) umumnya dipakai untuk memperkenalkan rincian/penjelasan setelah pernyataan yang sudah lengkap atau setelah kata seperti “yaitu”, “sebagai berikut”. Pada kalimat ini, bagian sebelum titik dua (“A.A. Navis, seorang seniman yang perspektif”) belum merupakan pernyataan lengkap dan pemakaian (:) membuat struktur kalimat terasa tidak tepat. Seharusnya lebih sesuai memakai koma atau tanda pisah, atau menyusun ulang kalimat agar hubungan penjelasannya lebih jelas.
A. Titik pada singkatan “A.A.” memang lazim dipakai dalam penulisan singkatan nama, sehingga bukan letak kesalahan yang ditanyakan.
B. Tepat: tanda (:) setelah “perspektif” tidak tepat karena bagian sebelumnya belum utuh sebagai pernyataan lengkap yang layak diikuti rincian.
C. Koma setelah “Navis” wajar untuk memisahkan aposisi/keterangan tambahan (“seorang seniman ...”).
D. Koma sebelum “serta” dalam deret masih dapat dipakai untuk memperjelas deretan sifat yang panjang.
E. Koma setelah “kreatif” juga wajar karena kalimat sedang menyajikan deret sifat.
Catatan simbol wajib: tanda baca yang tepat \(\gt\) tanda baca yang tidak tepat, dan yang tidak tepat \(\lt\) yang tepat.
soal 47
Cermati kalimat-kalimat berikut!
(\(1\)) Daun sirih merah digunakan, untuk mengurangi keputihan.
(\(2\)) Daun sirih merah, berwarna merah atau merah tua.
(\(3\)) Rasanya, sedikit pahit dan terasa kesat di kerongkongan.
(\(4\)) Di samping itu, daun sirih dapat mengobati bermacam-macam penyakit seperti kanker, hepatitis, maag, dan lain-lain.
(\(5\)) Selain dapat mengobati berbagai penyakit, daun sirih juga dapat dijadikan sebagai antibiotik.
Penggunaan tanda koma yang tepat terdapat pada kalimat bernomor ....
A. (\(1\)) dan (\(2\))
B. (\(1\)) dan (\(3\))
C. (\(2\)) dan (\(4\))
D. (\(3\)) dan (\(4\))
E. (\(4\)) dan (\(5\))
Jawaban dan Analisa
Jawaban: E
Analisa: Koma dipakai, antara lain, untuk (a) memisahkan keterangan di awal kalimat, (b) memisahkan unsur perincian, dan (c) memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat.
(\(1\)) Salah: koma tidak diperlukan antara predikat “digunakan” dan keterangan tujuan “untuk ...”. Seharusnya “digunakan untuk ...” tanpa koma.
(\(2\)) Salah: koma memisahkan subjek “Daun sirih merah” dengan predikat “berwarna ...”, padahal tidak perlu.
(\(3\)) Kurang tepat: “Rasanya” sebagai subjek tidak perlu dipisah koma dari predikatnya; kalimat lebih efektif tanpa koma.
(\(4\)) Tepat: “Di samping itu,” adalah keterangan di awal kalimat sehingga wajar diikuti koma; perincian penyakit juga benar memakai koma dan “dan”.
(\(5\)) Tepat: anak kalimat/keterangan yang mendahului induk kalimat (“Selain dapat ...,”) dipisahkan dengan koma.
Catatan simbol wajib: kalimat tepat \(\gt\) kalimat tidak tepat, dan tidak tepat \(\lt\) tepat.
soal 48
Cermati judul karangan berikut!
Siswa membaca karangan yang berjudul Sejuta pesona yang menanti di gunung bromo.
Perbaikan penulisan judul dalam kalimat tersebut yang tepat adalah ....
A. Sejuta pesona yang Menanti di gunung Bromo
B. Sejuta Pesona Yang Menanti Di gunung Bromo
C. Sejuta Pesona yang Menanti Di Gunung Bromo
D. Sejuta Pesona yang Menanti di Gunung Bromo
E. Sejuta Pesona Yang Menanti di Gunung Bromo
Jawaban dan Analisa
Jawaban: D
Analisa: Penulisan judul yang benar menuntut kapital pada kata-kata penting, sementara kata depan “di” ditulis huruf kecil. Nama diri/unsur geografis “Gunung Bromo” harus diawali huruf kapital.
A. Salah: “pesona” seharusnya kapital sebagai bagian judul, dan “gunung” pada “Gunung Bromo” seharusnya kapital.
B. Salah: “Di” sebagai kata depan tidak perlu kapital, dan “gunung” seharusnya “Gunung”.
C. Salah: “Di” sebagai kata depan tidak perlu kapital.
D. Tepat: “Sejuta Pesona ... Gunung Bromo” benar, dan “di” sebagai kata depan tetap huruf kecil.
E. Kurang tepat: “Yang” tidak perlu dikapitalisasi dalam kaidah judul yang lazim (kata penghubung), sedangkan opsi D sudah paling sesuai.
Catatan simbol wajib: penulisan baku \(\gt\) penulisan tidak baku, dan tidak baku \(\lt\) baku.
soal 49
Cermati paragraf berikut!
Desa-desa adat di Indonesia tertantang dengan zaman. Kemajuan tehnologi menggeser nilai-nilai tradisi masyarakat dalam puluhan tahun terakhir. Arus budaya moderen membuat masyarakat kehilangan orientasi budaya. Namun demikian, sejumlah tokoh adat masih optimis, desa-desa adat dengan nilai-nilainya belum mati. Masyarakat adat tidak menolak nilai-nilai baru yang masuk, tetapi juga tidak takluk kepadanya. Masyarakat tidak menolak television atau internet masuk, tetapi proses melahirkan atau pernikahan tetap ada. Tradisi itu tetap ada.
Perbaikan kata serapan yang tercetak miring pada paragraf tersebut adalah ....
A. teknologi, modern, televisi
B. teknologI, moderen, telivisi
C. technology, moderen, televisi
D. tecnology, modern, televisi
E. teknologi, modern, televsii
Jawaban dan Analisa
Jawaban: A
Analisa: Bentuk baku kata serapan dalam bahasa Indonesia adalah “teknologi”, “modern”, dan “televisi”. Bentuk “tehnologi”, “moderen”, dan “television” tidak baku untuk ragam bahasa Indonesia.
A. Tepat: semuanya bentuk baku.
B. Salah: “moderen” tidak baku, “telivisi” salah ejaan.
C. Salah: “technology” bukan bentuk baku bahasa Indonesia.
D. Salah: “tecnology” bukan bentuk baku bahasa Indonesia.
E. Salah: “televsii” salah ejaan.
Catatan simbol wajib: bentuk baku \(\gt\) bentuk tidak baku, dan tidak baku \(\lt\) baku.
soal 50
Cermati teks berikut!
Ia mengatakan sebagian ekosistem setempat telah berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit berijin ataupun skala kecil milik rakyat. Eksploitasi gambut setempat dikhawatirkan menyebabkan abrasi parah yang akan mengikis daratan pulau.
Perbaikan kata tidak baku yang tercetak miring yang tepat adalah ....
A. berizinkan, dikuatirkan
B. berizin, dikhawatirkan
C. berijinkan, dikawatirkan
D. izin, menghawatirkan
E. ijin, menghawatirkan
Jawaban dan Analisa
Jawaban: B
Analisa: Kata “berijin” tidak baku; bentuk bakunya adalah “berizin”. Sementara “dikhawatirkan” sudah merupakan bentuk baku, sehingga pasangan perbaikan yang tepat adalah “berizin, dikhawatirkan”.
A. Salah: “berizinkan” tidak sesuai makna pada konteks (yang dibutuhkan adalah “berizin”), dan “dikuatirkan” tidak baku.
B. Tepat: “berizin” baku dan “dikhawatirkan” juga baku.
C. Salah: “berijinkan” tidak baku, “dikawatirkan” tidak baku.
D. Salah: “izin” mengubah struktur (bukan lagi “perkebunan ... berizin”), dan “menghawatirkan” tidak sesuai bentuk pasif pada kalimat asli.
E. Salah: “ijin” tidak baku, dan “menghawatirkan” tidak sesuai struktur kalimat pasif.
Catatan simbol wajib: bentuk baku \(\gt\) bentuk tidak baku, dan tidak baku \(\lt\) baku.
Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 1
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 2
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 3
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 4
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 5
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 6
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 7
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 8
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 9
- Latihan Soal Bahasa Indonesia SMA/MA - Paket 10