Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Soal 46

Saya sampai di kecamatan pukul \(09.00\).

Kalimat yang menggunakan kata berimbuhan per- -an yang semakna dengan ke- -an pada kalimat di atas adalah ...

A. Kamu harus memenuhi persyaratan yang diminta.

B. Pertanian di desaku makin modern.

C. Setiap bangsa mendambakan perdamaian.

D. Kami singgah di peristirahatan keluarga dr. Rio.

E. Kita harus menjunjung persatuan bangsa.

Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Pada kalimat “Saya sampai di kecamatan pukul \(09.00\)”, kata “kecamatan” berimbuhan ke- -an. Dalam banyak contoh bahasa Indonesia, imbuhan ke- -an dapat membentuk nomina yang bermakna “tempat/daerah yang berhubungan dengan dasar katanya” (misalnya: kota \(\rightarrow\) kekotaan, camat \(\rightarrow\) kecamatan). Jadi “kecamatan” bermakna wilayah/daerah administrasi yang berkaitan dengan “camat”.

Pilihan yang memakai imbuhan per- -an dengan makna “tempat” (sepadan sebagai nomina tempat) adalah “peristirahatan” pada opsi D. “Peristirahatan” (per- -an) bermakna tempat untuk beristirahat. Karena sama-sama menunjukkan nomina tempat/area, D paling sepadan.

Maka D \( \gt \) pilihan lain, sedangkan pilihan lain \( \lt \) D dalam kesepadanan makna sebagai “tempat/area”.

Analisis tiap pilihan:

A. “persyaratan” memang berimbuhan per- -an, tetapi bermakna “ketentuan/syarat-syarat”, bukan tempat.

B. “pertanian” berimbuhan per- -an, tetapi mengarah ke bidang/urusan pertanian, bukan tempat yang sepadan.

C. “perdamaian” bermakna keadaan damai, bukan tempat.

D. Benar: “peristirahatan” jelas bermakna tempat untuk beristirahat.

E. “persatuan” bermakna kesatuan/keutuhan, bukan tempat.


Soal 47

... laki-laki ... perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menegakkan hukum.

Kata penghubung yang tepat untuk melengkapi kalimat adalah....

A. karena, dan

B. baik, serta

C. walau, dan

D. meski, maupun

E. baik, maupun

Jawaban & Analisis

Jawaban: E

Kalimat membutuhkan pasangan penghubung yang menyatakan “keduanya sama-sama” (laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak dan kewajiban). Pola baku untuk makna itu adalah “baik ... maupun ...”.

Jika diisi “baik ... maupun ...”, kalimat menjadi efektif dan sejajar: “Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama ...”. Ini paling tepat secara tata bahasa.

Karena E membentuk pasangan yang baku, maka E \( \gt \) pilihan lain; pilihan lain \( \lt \) E.

Analisis tiap pilihan:

A. “karena” menyatakan sebab, tidak cocok.

B. “baik ... serta ...” tidak membentuk pasangan baku yang sejajar.

C. “walau” menyatakan konsesi, bukan kesejajaran.

D. “meski ... maupun ...” tidak tepat; “meski” biasanya berpasangan dengan “tetapi/namun”, bukan “maupun”.

E. Benar: pasangan baku “baik ... maupun ...”.


Soal 48

Kita harus mencatat apa-apa yang akan kita beli sebelum berbelanja.

Kalimat majemuk bertingkat yang sepola dengan kalimat tersebut adalah ...

A. Kita harus bersabar karena orang sabar disayang Tuhan.

B. Saya harus berdisiplin dalam mengatur pengeluaran.

C. Ibu mengatur pengeluaran agar kamu dapat bersekolah di perguruan tinggi.

D. Saya selalu membantu ibu ketika ibu banyak pekerjaan.

E. Hari ini ibu hanya berbelanja keperluan sehari-hari.

Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Kalimat asal memiliki pola: induk kalimat + anak kalimat pewatas (klausa relatif) yang ditandai kata “yang”.

Induk: “Kita harus mencatat apa-apa” + anak (pewatas untuk “apa-apa”): “yang akan kita beli”. Polanya adalah adanya bagian yang diterangkan (apa-apa) lalu diikuti klausa penjelas menggunakan “yang”.

Di antara pilihan, yang paling mendekati pola “induk + anak kalimat keterangan waktu/pewatas yang melekat pada pernyataan utama” adalah D: “Saya selalu membantu ibu” + anak kalimat waktu “ketika ibu banyak pekerjaan”. Keduanya sama-sama kalimat majemuk bertingkat (ada induk dan anak kalimat).

Karena kesamaan pola bertingkat (induk + anak kalimat) pada D paling jelas dan tidak sekadar frasa, maka D \( \gt \) pilihan lain, sedangkan yang lain \( \lt \) D.

Analisis tiap pilihan:

A. Majemuk bertingkat sebab-akibat (karena), tetapi polanya bukan pewatas seperti kalimat asal; lebih berupa alasan umum.

B. Kalimat tunggal (tidak ada anak kalimat).

C. Majemuk bertingkat tujuan (agar), tetapi polanya bukan seperti pewatas “yang ...” pada kalimat asal.

D. Benar: jelas induk kalimat + anak kalimat (ketika ...).

E. Kalimat tunggal (tidak ada anak kalimat).


Soal 49

Bacalah paragraf berikut!

Jauh di pinggiran kota, matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Hamparan gabah dijemur di jalan aspal satu-satunya di kampung itu. Pak Beno sendirian menunggu gabah miliknya, duduk terkantuk-kantuk di bawah pohon kapuk. Angin tengah hari sesekali membawa lari wangi bunga-bunga gempol.

Kalimat yang bernapas sama dengan kalimat bercetak miring dalam paragraf tersebut adalah ...

A. Ombak berkejar-kejaran di tepi pantai.

B. Perpustakaan adalah gudang ilmu.

C. Pamanku pergi ke Jakarta naik Garuda.

D. Pak Kaito adalah seorang rentenir.

E. Ia tinggal di jantung kota.

Jawaban & Analisis

Jawaban: A

Kalimat bercetak miring: “Angin tengah hari sesekali membawa lari wangi bunga-bunga gempol.” Ini menggunakan gaya bahasa personifikasi: angin (benda alam) diberi tindakan seperti manusia (“membawa lari”).

Opsi A: “Ombak berkejar-kejaran di tepi pantai.” Ombak diberi perilaku manusia (“berkejar-kejaran”), juga personifikasi. Maka “napasnya” sama: sama-sama melukiskan suasana dengan personifikasi.

Karena A paling sejenis (personifikasi) maka A \( \gt \) opsi lain; opsi lain \( \lt \) A.

Analisis tiap pilihan:

A. Benar: personifikasi, selaras dengan “angin membawa lari wangi”.

B. Metafora/definisi (“perpustakaan adalah ...”), tidak sejenis.

C. Denotatif (pernyataan biasa), tidak sejenis.

D. Denotatif (identifikasi), tidak sejenis.

E. Idiom/metafora (“jantung kota”), bukan personifikasi seperti kalimat miring.


Soal 50

Perhatikan ilustrasi berikut!

Setelah musuh menyerang wilayah mereka. Pasukan itu kalah. Namun mereka pantang menyerah dan terus berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatan pasukan.

Ilustrasi di atas menggambarkan peribahasa....

A. Patah tumbuh hilang berganti.

B. Harimau mati meninggalkan belangnya.

C. Tiada gading yang tak retak.

D. Sebelum ajal bertopang mati.

E. Sebab buah dikenal pohonnya.

Jawaban & Analisis

Jawaban: D

Ilustrasi menekankan sikap “pantang menyerah” walaupun sudah kalah: tetap berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatan. Peribahasa yang bermakna “berusaha terus sampai titik terakhir, tidak menyerah walau keadaan sangat berat” adalah “Sebelum ajal bertopang mati.”

Pilihan lain tidak sesuai: A tentang penggantian/kelanjutan generasi; B tentang nama baik; C tentang ketidaksempurnaan; E tentang asal-usul/sifat anak terlihat dari orang tua. Karena D paling tepat untuk semangat bertahan sampai akhir, maka D \( \gt \) pilihan lain, sedangkan pilihan lain \( \lt \) D.

Analisis tiap pilihan:

A. Bermakna yang hilang akan terganti; tidak menekankan pantang menyerah setelah kalah.

B. Tentang reputasi/jejak, tidak relevan.

C. Tentang kekurangan yang wajar, tidak relevan.

D. Benar: tetap bertahan/berjuang hingga batas terakhir.

E. Tentang sifat/asal, tidak relevan.