Mode Disiplin
02:00
Target: ≤ 60 detik per soal.

Sumber dan Penanggulangan Polusi Udara

Bacaan:

Polusi udara dapat didefinisikan sebagai keadaan udara yang mengandung zat kimia atau mengalami perubahan kondisi fisik (misalnya panas) yang melewati batas tertentu, sehingga dapat membahayakan manusia, makhluk hidup lain (hewan, tumbuh-tumbuhan), maupun lingkungan abiotik. Karena itu, polusi udara merupakan ancaman yang sangat serius bagi kelangsungan kehidupan di bumi.

Polusi udara juga dapat terjadi secara alami sejak bumi terbentuk. Fenomena alam seperti letusan gunung berapi, kebakaran hutan, badai debu, bangkai tumbuhan dan hewan yang membusuk, serta garam dari air laut dapat mencemari udara. Namun, semuanya masih dapat ditoleransi selama kadar pencemar masih dalam batas yang dapat ditoleransi; artinya laju pembersihan polusi alami dan laju pencemaran masih dalam keadaan seimbang.


  1. Isi paragraf pertama adalah ...

    1. Polusi udara dapat mengancam alam sekitarnya.
    2. Polusi udara sangat memengaruhi kehidupan manusia.
    3. Polusi udara sangat membahayakan makhluk hidup.
    4. Polusi udara mengandung zat kimia.
    Jawaban & Analisis

    Kunci: C

    Analisis: Paragraf pertama menjelaskan definisi polusi udara dan menekankan dampaknya yang membahayakan manusia, makhluk hidup lain, serta lingkungan abiotik. Dari pilihan yang tersedia, yang paling mewakili isi utama paragraf adalah pernyataan bahwa polusi udara membahayakan makhluk hidup.

    • A benar sebagian (lingkungan), tetapi paragraf pertama tidak hanya menyorot alam; ada manusia dan makhluk hidup lain.
    • B terlalu sempit karena hanya menyorot manusia.
    • C paling sesuai karena menangkap inti “membahayakan” yang menjadi penekanan paragraf.
    • D hanya mengambil satu ciri (zat kimia) dan mengabaikan unsur batas/ambang serta dampak bahaya.
  2. Simpulan wacana tersebut adalah ...

    1. Polusi terhadap udara memang terjadi secara alamiah.
    2. Tanpa menghirup udara manusia akan mati.
    3. Polusi udara semata-mata adalah oleh manusia.
    4. Manusia perlu menjaga sumber daya agar regenerasinya tetap baik.
    Jawaban & Analisis

    Kunci: A

    Analisis: Paragraf kedua secara eksplisit menyatakan polusi udara dapat terjadi secara alami sejak bumi terbentuk (contoh: letusan gunung berapi, kebakaran hutan, badai debu, dan lain-lain). Karena itu, simpulan yang paling tepat (dan paling langsung didukung bacaan) adalah bahwa polusi udara memang dapat terjadi secara alamiah.

    Secara logika, bacaan juga menekankan konsep ambang toleransi: bila tingkat pencemar \(p \gt p_{toleransi}\) maka kondisi menjadi berbahaya, sedangkan bila \(p \lt p_{toleransi}\) masih dapat ditoleransi. Namun inti simpulan yang ditanyakan pada opsi adalah keberadaan polusi alami.

    • A tepat dan langsung sesuai isi paragraf kedua.
    • B benar sebagai pengetahuan umum, tetapi bukan simpulan dari wacana (tidak menjadi fokus pembahasan).
    • C bertentangan dengan bacaan karena bacaan memberi contoh polusi alami.
    • D tidak menjadi simpulan wacana; bacaan membahas polusi udara dan keseimbangan laju pencemaran-pembersihan, bukan regenerasi sumber daya.
  3. Perhatikan kalimat berikut:

    “Sesudah bom jatuh bertubi-tubi, akhirnya pihak lawan bertekuk lutut.”

    Arti ungkapan bertekuk lutut yang terdapat dalam kalimat tersebut adalah ...

    1. menyerang
    2. menekuk
    3. melawan
    4. menyerah
    Jawaban & Analisis

    Kunci: D

    Analisis: Ungkapan bertekuk lutut bermakna kias: tunduk/kalah/menyerah. Konteks “sesudah bom jatuh bertubi-tubi” menunjukkan pihak lawan tidak mampu bertahan dan akhirnya menyerah.

    • A tidak sesuai; “akhirnya” menandai berakhirnya perlawanan, bukan mulai menyerang.
    • B makna harfiah, bukan makna idiom dalam konteks perang/konflik.
    • C kebalikan dari makna konteks (bukan melawan, tetapi berhenti melawan).
    • D tepat: menyerah.
  4. Seorang siswa sedang mewawancarai Kepala Desa Sukaria, dengan topik masalah lingkungan.

    Daftar pertanyaan yang sesuai dengan topik tersebut adalah ...

      • Apa benar Bapak sebagai Kepala Desa?
      • Sudah lama Bapak membenahi lingkungan?
      • Apakah keadaan lingkungan di desa ini sudah baik?
      • Apakah keadaan lingkungan di desa ini sudah baik?
      • Usaha apa yang Bapak lakukan untuk mengatasi limbah?
      • Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap usaha Bapak?
      • Manfaat apa yang dirasakan masyarakat dari program kebersihan lingkungan?
      • Apakah masyarakat ikut berpartisipasi dalam kebersihan?
      • Apa saja yang Bapak lakukan selama menjabat Kepala Desa?
      • Bagaimana pendapat Bapak terhadap pencemaran air sungai?
      • Berapa lama Bapak menjabat Kepala Desa?
      • Apakah lingkungan di desa Sukaria sudah baik?
      • Apakah warga desa Sukaria menyadari pentingnya kebersihan lingkungan?
    Jawaban & Analisis

    Kunci: B

    Analisis: Topik wawancara adalah masalah lingkungan. Pertanyaan yang paling sesuai harus menggali (1) kondisi lingkungan, (2) upaya konkret (mengatasi limbah/kebersihan), (3) respons masyarakat, dan (4) manfaat program. Opsi B memuat keempat aspek itu secara fokus.

    • A kurang tepat karena pertanyaan pertama hanya konfirmasi jabatan, tidak terkait masalah lingkungan.
    • B paling lengkap dan langsung menyorot program lingkungan (limbah, tanggapan, manfaat).
    • C ada pertanyaan relevan, tetapi ada pertanyaan “apa saja yang Bapak lakukan” yang terlalu umum (tidak spesifik lingkungan).
    • D didominasi pertanyaan administratif (lama menjabat) dan pertanyaan umum; kurang menggali tindakan/program.
  5. Perhatikan kalimat-kalimat berikut:

    No Kalimat
    (1) Adik-adikku selalu bertengkar hampir setiap hari.
    (2) Mereka tidak ada yang mau mengalah.
    (3) Seandainya saya mempunyai uang yang banyak, adik-adikku akan kubelikan mobil-mobilan yang sama agar tidak bertengkar.
    (4) Aku ingin adik-adikku rukun seperti kerbau dengan burung bangau.

    Kalimat yang menggunakan majas perumpamaan terdapat pada kalimat nomor ...

    1. 1
    2. 2
    3. 3
    4. 4
    Jawaban & Analisis

    Kunci: D (4)

    Analisis: Majas perumpamaan (simile) ditandai kata pembanding seperti “seperti”, “bagai”, “laksana”. Kalimat (4) memakai kata “seperti” dan membandingkan “rukun” dengan “kerbau dengan burung bangau” sehingga jelas bersifat perumpamaan.

    • A (1) lugas/denotatif: menyatakan kebiasaan bertengkar.
    • B (2) lugas: menyatakan sikap tidak mau mengalah.
    • C (3) pengandaian (kalimat bersyarat), tetapi tetap literal, bukan perumpamaan.
    • D (4) perumpamaan karena ada penanda “seperti” dan perbandingan untuk menggambarkan “rukun”.