Soal 46
Perhatikan kutipan pantun berikut!
|
Pergi merantau ke negeri orang. sampai di negeri antah berantah. .... .... |
Agar menjadi pantun yang baik, larik yang tepat melengkapi sampiran tersebut adalah ....
-
Kawan-kawan kita saling tolong menolong.
jadian hidup kita lebih berarti. -
Tiap hari menyanyi riang.
hilangkan semua rasa gundah. -
Kawanku, jangan sekalipun berbohong.
jujurlah agar hidup lebih indah. -
Siapa pandai membuat lontong.
baiklah kita saling membantu.
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis: Pantun umumnya berpola rima akhir \( a\text{-}b\text{-}a\text{-}b \). Dua larik awal berakhir dengan bunyi -ong (orang) dan -ah (berantah). Maka larik ke-3 sebaiknya berakhir -ong, dan larik ke-4 berakhir -ah. Pilihan C memenuhi rima itu: berbohong (ong) dan indah (ah).
- A larik ke-4 berakhir “berarti” (i), tidak sesuai rima \( b \) yang diharapkan.
- B larik ke-3 berakhir “riang” (ang), tidak mengunci rima \( a \) seperti “orang” (ong).
- C (benar) rima konsisten dan isi jelas sebagai amanat (jujur) setelah sampiran merantau.
- D larik ke-4 berakhir “membantu” (u), tidak seirama dengan “berantah” (ah).
Soal 47
Perhatikan kutipan puisi berikut!
|
Rindu tak pernah mati .... \( (1) \) Meski laju putaran waktu .... \( (2) \) tak berhenti Makin menyesali di dalam hati |
Kata yang tepat untuk melengkapi puisi tersebut adalah ....
- \( (1) \) lapar \( (2) \) Berangkat
- \( (1) \) usai \( (2) \) bergulir
- \( (1) \) pulang \( (2) \) berlanjut
- \( (1) \) lupa \( (2) \) Bergulir
Jawaban & Analisis
Jawaban: B
Analisis: Makna bait menegaskan rindu yang tidak selesai meski waktu terus berjalan. Frasa “rindu tak pernah mati usai” menyatu secara logis (rindu tidak pernah selesai). Lalu “laju putaran waktu bergulir tak berhenti” juga pas karena “bergulir” selaras dengan citra “putaran waktu”.
- A “rindu ... lapar” tidak padu makna.
- B (benar) padu makna dan padu citraan: rindu tak usai, waktu bergulir.
- C “rindu ... pulang” kurang tepat secara makna; “waktu berlanjut” bisa, tetapi \( (1) \) tidak kuat.
- D “rindu ... lupa” bertentangan (lupa justru menghapus rindu).
Soal 48
Bacalah kutipan puisi berikut!
|
Lihatlah...! Sungai yang dulu mengalir deras Kini tampak kecil dan surut \( (....) \) Pepohonan yang mulanya hijau dan teduh Dan lihatlah Tanah semakin tandus |
Larik bermajas yang tepat untuk melengkapi puisi tersebut adalah ....
- Mulai menguning dan meregang
- Mulai merintih dan menangis
- Menjadi kering dan tiada air
- Berwarna kuning dan mengering
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis: Alur gagasan puisi bergerak dari sungai yang menyusut menuju kerusakan lingkungan (tanah tandus). Larik kosong seharusnya memperkuat sebab-akibat: ketika sungai kecil dan surut, keadaan menjadi kering dan kekurangan air. Pilihan C paling langsung mengikat ke larik sebelum dan sesudahnya.
- A “menguning dan meregang” kurang jelas objeknya (tanah? daun?) dan tidak sekuat hubungan dengan “sungai surut”.
- B “merintih dan menangis” memang majas, tetapi tidak paling nyambung dengan fakta “surut” dan penutup “tandus”.
- C (benar) menegaskan kondisi kekurangan air yang konsisten dengan “surut” dan “tandus”.
- D masih umum dan cenderung mengulang tanpa menguatkan rantai sebab-akibat sejelas C.
Soal 49
Bacalah kutipan drama berikut!
|
Rizal : (masuk hendak mengambil sesuatu dari lemari buku) \( 1 \) Rafli : (pura-pura berisik kepada Noval) \( 2 \) Lihatlah betapa megahnya ia, betapa angkuhnya! Seorang jendral yang menang perang menengok musuhnya yang sudah menjadi bangkai. Noval : (tidak tahan lagi) Aku bukan bangkai! Setan (bergegas memburu Rizal, dipegangnya batang leher Rizal, diseretnya ke tengah, lalu dibanting ke samping. Hampir jatuh Rizal. Plak! (Rizal ditempelengnya)) \( 3 \) Rizal : (tertawa sebentar, lalu sambil menutup pipi kirinya berkata) \( 4 \) |
Perbaikan petunjuk laku pada dialog \( 4 \) adalah ....
- (meringis sebentar, ....)
- (diam sebentar, ....)
- (mengaduh sebentar, ....)
- (melotot sebentar, ....)
Jawaban & Analisis
Jawaban: C
Analisis: Pada dialog \( 3 \), Rizal mengalami kekerasan fisik: diseret, dibanting, lalu “Plak!” (ditempeleng). Reaksi yang paling wajar setelah pipi dipukul adalah mengeluh/menahan sakit (mengaduh), bukan tertawa. Maka petunjuk laku \( 4 \) seharusnya mengarah pada respons sakit.
- A “meringis” bisa menunjukkan sakit, tetapi “mengaduh” lebih tepat untuk respons langsung setelah ditempeleng.
- B “diam” tidak menggambarkan efek pukulan secara ekspresif.
- C (benar) “mengaduh” paling logis karena ada tindakan memukul yang menimbulkan nyeri.
- D “melotot” lebih cocok untuk marah/terkejut, bukan reaksi utama terhadap rasa sakit pada pipi.
Soal 50
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
|
Samin ingin bertanam kentang, ia pergi ke rumah Pak Sali untuk menanyakan hal itu. Samin : "Selamat siang, Pak!" Pak Sali : "Selamat siang, silakan masuk, Nak!" Samin : "Terima Kasih." Pak Sali : "Ada perlu apa, Nak, datang kemari?" Samin : "\( ( \ldots ) \) \( 1 \)" Pak Sali : "O. Itubagus, Nak." Samin : "\( ( \ldots ) \) \( 2 \)" Pak Sali : "O, itu mudah, Nak." |
Kalimat yang tepat untuk melengkapi dialog drama tersebut adalah ....
- \( 1 \) Begini, Pak. Saya ingin menanam kentang.
\( 2 \) Bagaimana cara memilih bibit kentang, menanam, dan merawatnya? - \( 1 \) Begini, Pak. Saya ingin kentang.
\( 2 \) Bagaimana cara memupuk, memilih bibit kentang, menanam, dan merawatnya - \( 1 \) Kapan Bapak mengajari saya menanam kentang?
\( 2 \) Bagaimana cara mendapatkan kentang yang baik. - \( 1 \) Begini, Pak. Berapa hasil panen Bapak?
\( 2 \) Bagaimana cara memberantas ham
Jawaban & Analisis
Jawaban: A
Analisis: Setelah pertanyaan Pak Sali “Ada perlu apa...?”, dialog \( 1 \) semestinya menyatakan maksud kedatangan: ingin menanam kentang. Lalu respons Pak Sali “Itu bagus” cocok sebagai tanggapan terhadap niat tersebut. Dialog \( 2 \) semestinya berupa pertanyaan lanjutan tentang cara menanam, sehingga wajar jika Pak Sali menjawab “itu mudah”.
- A (benar) runtut: menyatakan tujuan \( \to \) meminta cara (bibit–menanam–merawat).
- B \( 1 \) “ingin kentang” tidak efektif (yang dimaksud ingin menanam, bukan sekadar ingin kentang).
- C \( 1 \) terlalu memaksa jadwal (“kapan mengajari”), dan \( 2 \) tidak sesuai konteks belajar menanam.
- D membahas hasil panen/ham, tidak sesuai fokus dialog awal tentang belajar menanam.
Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 1
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 2
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 3
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 5
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 6
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 7
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 8
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 9
- Latihan Soal TKA Bahasa Indonesia SMP – Paket 10