Soal 6.Bacalah paragraf berikut dengan saksama!
|
(1) Industri kapal kayu tradisional di Pusong Lama, Kabupaten Lhokseumawe, Aceh kian surut. (2) Kini tinggal dua pemilik usaha pembuatan kapal yang tersisa dari semula mencapai sepuluh usaha. (3) Kebakaran hutan menjadi pemicu utama berkurangnya kayu asem laut. (4) Surutnya usaha pembuatan kapal kayu dalam empat tahun terakhir akibat sulitnya mendapat bahan baku. (5) Kehadiran kapal dari Thailand dan China yang berbahan fiber atau logam semakin membuat industri kapal kayu tradisional terpuruk. |
Kalimat penjelas yang tidak padu pada paragraf tersebut adalah nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Jawaban dan Analisis
Jawaban: C
Analisis: Gagasan utama paragraf adalah kemerosotan industri kapal kayu tradisional di Pusong Lama, disertai data penyusutannya (kalimat (2)), penyebab langsung di tingkat industri (kalimat (4): sulit bahan baku), dan faktor eksternal yang memperparah (kalimat (5): kapal fiber/logam dari luar).
Kalimat (3) menyisipkan informasi kebakaran hutan dan “kayu asem laut” yang tidak dijembatani secara jelas ke alur industri kapal kayu (tidak ada penghubung yang tegas bahwa kayu itu adalah bahan baku utama kapal pada paragraf tersebut). Akibatnya, kepaduannya \( \lt \) kalimat lain yang langsung menjelaskan kondisi industri, sehingga (3) menjadi bagian yang paling tidak padu. Secara koherensi, (2), (4), dan (5) \( \gt \) (3) karena keterkaitannya lebih langsung dengan kemerosotan industri kapal kayu.
Bacalah dengan cermat paragraf berikut untuk soal nomor \( 7 \)!
|
Penanaman karakter sangat penting dilakukan sejak dini oleh orang tua. Misalnya, penanaman percaya diri anak sebagai kunci awal sebagai tanggung jawab pembangun karakter. Begitu pula kedisiplinan, dengan demikian, kemandirian anak dan kedisiplinan dapat membangun fighting spirit dan surviving di dunia ini. Artinya, melalui disiplin dan tanggung jawab, si anak mengerti tugasnya dengan penuh percaya diri. Selain itu, perlu pula menanamkan kepekaan terhadap orang lain dan lingkungannya. |
Soal 7.Kalimat simpulan paragraf tersebut adalah ...
A. Empati mengajarkan anak untuk menghargai orang lain dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
B. Sikap tanggung jawab anak akan mengerti tugas yang seharusnya dia lakukan diberikan tanggung jawabnya.
C. Dengan kemandirian fighting spirit dan surviving di dunia ini anak diharapkan dapat bertanggung jawab.
D. Dengan disiplin anak memiliki kunci sukses dalam kehidupan untuk mengatur masa depannya sendiri.
E. Sikap percaya diri, disiplin, mandiri, tanggung jawab, dan empati adalah karakter yang harus ditanamkan pada anak.
Jawaban dan Analisis
Jawaban: E
Analisis: Paragraf memaparkan pentingnya penanaman karakter sejak dini, lalu merinci unsur-unsurnya: percaya diri, disiplin, kemandirian, tanggung jawab, serta kepekaan/empati terhadap orang lain dan lingkungan. Simpulan yang baik harus merangkum seluruh unsur itu, bukan hanya satu bagian.
Opsi E merangkum semua unsur karakter yang disebutkan, sehingga daya rangkum dan kesesuaiannya \( \gt \) opsi A–D yang hanya mengambil sebagian ide (misalnya empati saja, disiplin saja, atau tanggung jawab saja). Karena itu, opsi lain berada pada tingkat \( \lt \) dibanding E.
Bacalah teks berikut untuk menjawab soal nomor \( 13 \) dan \( 14 \)!
|
Doktor Mohammad Hatta yang lebih dikenal dengan sebutan Bapak Koperasi Indonesia adalah seorang pemimpin yang berdisiplin tinggi, tegas, dan taat beragama. Pembawaannya sederhana walaupun ia keturunan berada dan apa yang dikatakannya selalu sesuai dengan perbuatannya. Bung Hatta lahir tanggal \( 12 \) Agustus \( 1902 \) di Bukittinggi. Pendidikan yang pernah ditempuhnya adalah ELS, MULO, Prins Hendrik School (Sekolah Dagang Belanda), dan Handels Hogeschool (Sekolah Tinggi Perdagangan) di Negeri Belanda hingga tamat. Pada tahun \( 1932 \) Bung Hatta memimpin partai Pendidikan Nasional Indonesia. Karena kegiatan politiknya, Bung Hatta ditangkap dan pada tahun \( 1935 \) beliau dibuang ke Banda Neira dan terakhir ke Sukabumi. Pada masa pendudukan Jepang tahun \( 1943 \) Bung Hatta memimpin kantor Pusat Tenaga Rakyat (putera) bersama Bung Karno, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur. |
Soal 13. Keteladanan tokoh tersebut adalah ...
A. Berdisiplin tinggi, tegas, taat beragama, dan pembawaannya sederhana.
B. Bapak Koperasi Indonesia yang kehidupannya sangat sederhana.
C. Karena kegiatan politiknya, beliau rela dibuang ke Banda Neira.
D. Pendidikannya ditempuh di Negeri Belanda sejak SD hingga sekolah tinggi.
E. Memimpin kantor Pusat Tenaga Rakyat (putera) bersama para pejuang bangsa.
Jawaban dan Analisis
Jawaban: A
Analisis: Pada kalimat pembuka, tokoh digambarkan sebagai pemimpin yang berdisiplin tinggi, tegas, taat beragama, serta sederhana dan konsisten antara ucapan dan perbuatan. Itu adalah sifat keteladanan yang paling langsung disebut dalam teks.
Opsi A memuat rangkaian sifat teladan yang lengkap sesuai paparan teks, sehingga ketepatannya \( \gt \) opsi lain. Opsi B terlalu sempit (hanya menyorot sederhana). Opsi C, D, dan E lebih berupa peristiwa/riwayat, bukan inti “keteladanan” yang ditekankan pada karakter, sehingga \( \lt \) A.
Soal 14. Masalah atau konflik yang dihadapi tokoh adalah ...
A. Pembawaannya yang sederhana membuat beliau direndahkan oleh Pemerintah Belanda.
B. Menjadi ketua perhimpunan Indonesia dan gerakannya mengkhawatirkan Pemerintah Belanda.
C. Kegiatan politik Bung Hatta dilarang oleh Belanda sehingga ia dibuang ke Banda Neira.
D. Ketika diangkat menjadi Wakil Presiden RI tahun \( 1945 \) beliau sedang memimpin Pusat Tenaga Rakyat.
E. Bung Hatta tidak dapat bekerja sama dengan Bung Karno dalam memimpin negara.
Jawaban dan Analisis
Jawaban: C
Analisis: Teks menyatakan jelas: “Karena kegiatan politiknya, Bung Hatta ditangkap dan pada tahun \( 1935 \) beliau dibuang ke Banda Neira...”. Ini adalah konflik yang dialami tokoh akibat aktivitas politiknya.
Opsi C sesuai langsung dengan sebab-akibat dalam teks (kegiatan politik \(\rightarrow\) ditangkap/dibuang), sehingga \( \gt \) opsi lain. Opsi A, B, D, dan E memuat informasi yang tidak dinyatakan dalam kutipan atau menyimpang dari fakta yang disebut, sehingga berada pada tingkat \( \lt \) dibanding C.
Cermati penggalan hikayat berikut untuk menjawab soal nomor \( 15 dan 16 \)!
|
(1) Maka mereka pun percayalah akan perkataan orang muda itu. (2) Maka baginda pun naiklah ke atas kendaraan baginda lembu putih itu. (3) Maka padinya pun dituainya oleh Wan Empuk dan Wan Malini. (4) Maka dengan takdir Allah ta’ala lembu kenaikan baginda itu pun muntahlah buih, maka keluarlah daripada buih itu seorang manusia laki-laki dinamai Bat dan destarnya terlalu besar. (5) Maka Bat raja itu digelarnya oleh Bat sang Suparba Tarambeini Teribana. |
Soal 15. Kalimat yang berisi karakteristik sastra Melayu Klasik yang menunjukkan ketidaklaziman terdapat pada nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Jawaban dan Analisis
Jawaban: D
Analisis: “Ketidaklaziman” dalam hikayat biasanya berupa peristiwa ajaib/di luar nalar. Kalimat (4) memuat peristiwa supernatural: lembu muntah buih lalu dari buih itu keluar seorang manusia. Ini jelas tidak lazim dan merupakan ciri yang kuat dalam sastra Melayu klasik.
Kalimat (1), (2), (3), dan (5) masih berupa rangkaian tindakan/kejadian yang wajar dalam cerita, sedangkan (4) paling menonjol sebagai peristiwa ajaib. Karena itu (4) \( \gt \) yang lain dalam menunjukkan ketidaklaziman, sementara yang lain \( \lt \).
Soal 16.Nilai budaya yang terdapat dalam naskah tersebut terletak pada nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Jawaban dan Analisis
Jawaban: E
Analisis: “Nilai budaya” mengarah pada kebiasaan/adat yang hidup dalam masyarakat, misalnya tradisi pemberian gelar, penamaan, atau tata cara pemuliaan tokoh. Kalimat (5) menampilkan praktik budaya berupa pemberian gelar/penobatan: “Bat raja itu digelarnya ...”. Ini menunjukkan adat pemberian gelar raja sebagai bagian dari tradisi.
Kalimat (4) lebih menonjolkan peristiwa ajaib (ketidaklaziman), bukan nilai budaya. Kalimat (1) berisi tindakan percaya, (2) aktivitas baginda, dan (3) kegiatan panen, tetapi tidak sejelas (5) dalam menunjukkan praktik budaya yang khas. Karena itu, (5) \( \gt \) yang lain sebagai letak nilai budaya, sedangkan (1)–(4) \( \lt \) (5) dalam ketepatan.