41. Cermatilah penutup surat lamaran pekerjaan berikut!
| Demikian surat lamaran saya. Mohon maklum dan terima kasih. |
Perbaikan kalimat penutup surat lamaran pekerjaan tersebut adalah ....
| A. | Frasa “Mohon maklum dan” diganti “Atas perhatian Bapak/Ibu, saya mengucapkan”. |
| B. | Frasa “Mohon maklum” diganti “Atas perhatiannya, saya mengaturkan”. |
| C. | Kalimat “Demikian surat lamaran saya” diubah menjadi “Demikian surat lamaran pekerjaan ini saya buat”. |
| D. | Seluruh kalimat diganti menjadi “Atas perhatian dan diterimanya lamaran ini saya ucapkan terima kasih.” |
| E. | Seluruh kalimat diubah menjadi “Demikian lamaran ini untuk mendapat perhatian dari Bapak/Ibu dan kami ucapkan terima kasih.” |
Jawaban dan Analisa
Jawaban: D
Penutup surat lamaran seharusnya menggunakan ungkapan yang santun, formal, dan lazim, serta menghindari frasa yang kurang tepat seperti “mohon maklum” (lebih cocok untuk meminta pengertian atas kekurangan, bukan penutup lamaran). Opsi D mengganti seluruh penutup menjadi kalimat formal yang utuh dan wajar: menyatakan terima kasih atas perhatian dan diterimanya lamaran.
Uji opsi:
A dan B hanya mengganti sebagian, tetapi tetap menyisakan struktur yang tidak jelas/terpotong (misalnya “saya mengucapkan ...” tanpa objek yang rapi).
C hanya mengganti kalimat pertama dan tidak memperbaiki masalah utama “mohon maklum”.
D paling rapi, formal, dan menjadi satu kalimat penutup yang lazim dipakai.
E tidak baku karena memakai “kami” (tidak konsisten dengan penulis tunggal “saya”) dan frasa “untuk mendapat perhatian” kurang tepat.
42. Perhatikan dialog berikut!
|
Parjo : “Saya mau berhenti dari tempat kerja ini!” (sambil mengepalkan tangan penuh kemarahan). Rahmat : “Ada apa Jo, mbok yang sabar! Kenapa?” (berkata rendah) Parjo : “Apa yang aku lakukan kok selalu salah.” (suaranya meninggi) Rahmat : “Jo, kau kan sudah hafal dengan sifatnya” (meredakan) Parjo : .... Rahmat : “Ya, itulah yang selalu dilakukan pada kita, tidak menghargai hasil kerja orang lain.” |
Kalimat yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang dialog tersebut adalah ....
| A. | Ingin rasanya aku memukul wajahnya yang selalu tampak mengejekkan. |
| B. | Dia memang selalu memandang orang lain dengan sebelah mata. |
| C. | Sebelumnya ia orang yang rendah diri karena ia tidak berpendidikan tinggi. |
| D. | Dia selalu berhati-hati kalau memperbaiki mobilnya di bengkel. |
| E. | Maksudmu, kita harus mengalah terus dan mengakui keunggulannya? |
Jawaban dan Analisa
Jawaban: E
Setelah Rahmat berkata “kau kan sudah hafal dengan sifatnya”, respons Parjo yang logis adalah menegaskan makna ucapan Rahmat (meminta klarifikasi/menyimpulkan), lalu Rahmat menguatkan dengan “itulah yang selalu dilakukan pada kita, tidak menghargai hasil kerja orang lain.” Opsi E paling nyambung karena berupa pertanyaan yang menafsirkan “sifatnya” (selalu menekan/meremehkan hingga kita harus mengalah).
Uji opsi:
A terlalu ekstrem dan tidak ditanggapi langsung oleh kalimat Rahmat berikutnya (yang bernada penjelasan umum, bukan meredakan kekerasan).
B mungkin menggambarkan sifat atasan, tetapi kurang “mengikat” ke kalimat Rahmat berikutnya yang menekankan “tidak menghargai hasil kerja”.
C dan D tidak relevan dengan konflik di tempat kerja pada dialog.
E membentuk alur dialog yang padu: klarifikasi → penegasan dari Rahmat.
43. Cermatilah pantun berikut!
|
Pergi berlibur ke pantai Pulangnya naik odong-odong Jadilah anak yang pandai .... |
Larik yang tepat untuk melengkapi pantun tersebut adalah ....
| A. | Jangan selalu tolong-menolong |
| B. | Perangai baik dan tidak sombong |
| C. | Punya teman suka menolong |
| D. | Jangan bicara omong kosong |
| E. | Punya otak janganlah bolong |
Jawaban dan Analisa
Jawaban: D
Pola rima pantun umumnya \( a \)-\( b \)-\( a \)-\( b \). Pada sampiran, baris \( 2 \) berakhir dengan bunyi “-ong” (odong-odong), sehingga isi baris \( 4 \) sebaiknya juga berakhir “-ong”. Opsi D berakhir “kosong” (bunyi “-ong”) dan maknanya selaras dengan nasihat “jadilah anak yang pandai”.
Uji opsi:
A dan C berakhir “-ong”, tetapi maknanya tidak sekuat/selaras (A justru bernada negatif terhadap tolong-menolong).
B tidak berakhir “-ong” sehingga kurang selaras rima dengan baris \( 2 \).
D memenuhi rima dan isi nasihatnya jelas.
E berakhir “-ong”, tetapi ungkapan “otak bolong” kurang santun untuk gaya pantun nasihat.
44. Cermati puisi berikut!
|
Cukuplah sudah air mata ini menetes Tak ingin lagi aku di sampingmu Sungguh aku ingin menutup pintu hatiku Melupakanmu semampu aku Aku merasa jatuh ... Perlahan kucoba menepi Walau terasa tak berdaya lagi |
Larik bermajas untuk melengkapi puisi tersebut adalah ....
| A. | Tenggelam di samudra luas tak bertepi |
| B. | Di tepi jalan raya yang sangat ramai |
| C. | Duduk termenung sendiri di sore hari |
| D. | Kekuatan yang tiba-tiba menghilang |
| E. | Banyak orang yang merasa kasihan kepadaku |
Jawaban dan Analisa
Jawaban: A
Puisi menonjolkan suasana batin yang terpuruk: “air mata”, “menutup pintu hati”, “melupakan”, “aku merasa jatuh”, lalu “menepi” dan “tak berdaya”. Larik yang diminta adalah bermajas (metaforis), sehingga opsi A paling kuat karena menggambarkan keterpurukan secara kias: “tenggelam di samudra luas tak bertepi”. Opsi lain cenderung denotatif (tempat/kejadian literal) atau kurang puitis.
Uji opsi:
A bermajas dan padu dengan “jatuh” serta “tak berdaya”.
B terlalu konkret-literal dan tidak selaras dengan ruang batin puisi.
C masih cukup puitis, tetapi bukan majas yang kuat (lebih deskriptif biasa).
D abstrak, tetapi kurang imaji puitik dibanding A.
E terlalu naratif dan tidak menunjukkan majas.
Catatan LaTeX wajib: simbol \( \gt \) dan \( \lt \).
50. Cermatilah kutipan esai berikut!
| Pengajaran sastra di sekolah dari hari ke hari semakin sarat dengan persoalan. Keluhan dari para guru dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra menjadi bukti konkret persoalan dalam pembelajaran sastra di sekolah. Persoalan yang dimaksud di antaranya pengetahuan dan kemampuan dasar para guru di bidang kesastraan sangat terbatas, buku dan bacaan penunjang di sekolah juga terbatas, kurikulum yang hanya menempelkan pembelajaran sastra pada pembelajaran Bahasa Indonesia, serta minat siswa terhadap sastra sangat rendah. .... |
Simpulan paragraf tersebut adalah ....
| A. | Banyak sekali siswa yang tidak mau belajar. |
| B. | Sangat sulit memahami karya sastra itu. |
| C. | Sungguh menyenangkan belajar sastra itu. |
| D. | Pembelajaran sastra di sekolah bermasalah. |
| E. | Ternyata tidak hanya sastra yang bermasalah. |
Jawaban dan Analisa
Jawaban: D
Paragraf memaparkan rangkaian alasan yang semuanya menunjukkan adanya persoalan dalam pengajaran/pembelajaran sastra di sekolah: apresiasi sastra rendah, pengetahuan dan kemampuan dasar guru terbatas, buku penunjang terbatas, kurikulum menempelkan sastra pada pelajaran Bahasa Indonesia, serta minat siswa terhadap sastra rendah. Karena seluruh isi paragraf adalah daftar bukti masalah, simpulan yang tepat adalah bahwa pembelajaran sastra di sekolah bermasalah (opsi D).
Uji opsi:
A terlalu umum dan tidak spesifik pada konteks sastra (paragraf menyoroti minat pada sastra, bukan “tidak mau belajar” secara umum).
B tidak menjadi simpulan utama; paragraf tidak menyimpulkan “karya sastra sulit dipahami”, melainkan sistem pembelajarannya yang bermasalah.
C bertentangan dengan isi (paragraf berisi keluhan dan keterbatasan).
D merangkum seluruh gagasan utama dan sesuai dengan kalimat pembuka “semakin sarat dengan persoalan”.
E tidak didukung karena paragraf tidak membahas bidang lain selain sastra.